TERAPI MENGHIRUP OKSIGEN

image

Gambar hasil nyomot dari google

Sudah lama saya sering ngerasain sakit kepala, pusing nyut-nyutan, sejak kuliah mungkin. Telat makan dikit pusing, laper dikit sakit kepala, kena panas terik plus laper apalagi…udh kayak orang paling menderita sedunia (kata suami saya penyakit orang kaya, gak bisa kena panas…xixixi…). Biasanya hilang cukup dengan minum teh panas bergelas-gelas (edisi lebay: sebenarnya biasa 2 gelas kok :D), dan kalo udh parah banget harus minum obat buat ngilangin cenat cenut yang sangat mengganggu itu…

Beberapa kali sya bawa berobat, diagnosis dokter: asam lambung, makan gak teratur, sering telat ato gak sarapan. Baiklah…mulailah sya gak pernah ninggalin sarapan, mulailah saya makan teratur. Berhasil…saya udah gak keganggu lagi ama cenat cenut. Namun ternyata belakangan kerasa pusing lagi, beberapa hari terakhir kerasanya pas bangun tidur. Seminggu yang lalu seorang tukang urut bilang, itu karena posisi tidur saya, pake bantalnya terlalu tinggi…benar emang saya klo tidur bantalnya selalu tinggi, gak enak rasanya klo pake bantal posisinya sejajar dengan badan, kurang nendang rasanya. Tapi demi membuktikan kata2 tukang urut..saya ikuti nasehatnya. Alhamdulillah…gak lagi ngerasain pusing pas bangun.

Hari senin ini saya puasa bersama suami (bukan sunnah loh…tapi bayar utang :D). Pas lagi laper2nya…saya keluar panas2an jalan kaki, maen ke rumah tetangga. Pulang-pulang bisa didugalah… cenat cenut… Suami pas pulang kantor nyaranin puasa saya batalin aja, gak mau lah saya…rugi..udah lebih setengah hari. Tapi gimana caranya nahanin sakit…minum teh ato obat jelas gak bisa. Sakit kepala saya ini tipenya klo gak diatasi..bisa tambah menyakitkan. Sebenarnya, teori sakit kepala udah seriiiiiing banget saya baca di mbah gugel, intinya karena kurang asupan oksigen ke kepala…dan salah satu cara mengatasinya adalah dengan Menghirup sebanyak2nya oksigen, agar cukup tersedia asupan oksigen yang akan dialirkan ke kepala.

Maka terapi itulah yang saya coba lakukan tadi. Duduk di kursi dengan posisi tegak…kerjaan saya hanya menghirup…hembus…menghirup…hembus, sampai kantuk menyerang. Saya akhirnya tertidur di kursi dengan sukses. Padahal klo dalam kondisi sakit kepala…sudah pasti saya gak akan bisa tidur, krn nahanin sakit. Tapi rada kesel…lagi nyenyak2nya ke(tidur)an di kursi…eh suami malah bangunin, rupanya ia kaget pas bangun gak mendapati sang istri di sampingnya…hehe…

Alhamdulillah…bangun2 saya ngerasain nih kepala ringaaan banget, gak ada lagi rasa sakit cenat cenut… Ternyata terapi menghirup oksigen ini emang mujarab….berkali2 saya ungkapkan rasa takjub…bisa sembuh tanpa harus minum obat, tanpa harus minum teh panas, dan yang pasti tanpa harus merepotkan tangan suami buat mijet mijet. Dan saking senengnya….saya sampe semangat menuliskan kisahnya di blog….padahal dah lama banget gak ngeblog 😀

Niat pengen mulai aktif ikutan FF ato prompt sementara ini masih niat, belum terealisasi..krn belum punya ide sama sekali…walopun temanya tiap minggu dipantau terus. Entah kpn bisa mulai bikin FF lagi. Nah…malah curhat gajebo deh, gak nyambung ama tulisan di atas…biarinlah..up to me,he..he..he…

Weekly Photo Challenge: Adventure

Ini yang keduakalinya saya mengikuti Weekly Photo Chalenge, kok pengen ikutan..?? Tak lain dan tak bukan karena temanya: Adventure.. Nah..klo yang tema ginian, walaupun gak banyak, adalah saya beberapa fotonya. Hitung-hitung sekalian bernostalgia dengan zaman masih gadis..halah 😀

Foto-foto yang saya upload ini diambil pada bln Juli 2010 (woow…sudah 4 thn berlalu…), saat saya dan teman-teman bertualang, mencoba menaklukan Curug Cibeurang, di Lebak, Banten. Belum ada jalan setapak untuk menuju curug tersebut, jadi pemandu harus mencari-cari dulu jalan yang memungkinkan, baru kemudian menebas semak-semak belukar untuk kami lewati. Ketika harus menyeberangi anak sungai yang jaraknya lumayan lebar, pemandu membuatkan jembatan darurat yang terbuat dari dua buah bambu, baru kemudian kami meniti jembatan tersebut dengan hati-hati. Beberapa kali kami harus memanjat tebing dengan hanya menggunakan alat bantu tali. Begitu pula ketika pulang, karena mengejar waktu harus mengikuti Rafting, pemandu mencarikan jalan terdekat, dengan resiko area yang harus kami lewati jauh lebih sukar dan berbahaya. Dari sekian banyak agenda jalan-jalan saya…trekking ke curug Cibeurang inilah yang paling memacu adrenalin. Agenda Rafting yang kami lakukan sekembalinya dari Curug pun sangat membuat ketagihan…terutama karena pada saat Rafting…hujan pun turun.. jadilah kami Rafting sambil hujan-hujanan..seruuu…^_^

35275_431106598712_555693712_4418091_287996_n 35149_431113223712_555693712_4418276_6329519_n 38364_1318970745475_1566987508_30737684_3723791_n 38512_1318983945805_1566987508_30737762_5190384_n 37571_426714364960_672149960_4648127_6074294_n 38257_426719884960_672149960_4648184_7733253_n 38257_426719894960_672149960_4648185_7299323_n

 

My wedding story

Alhamdulilah…akhirnya muncul juga mood sya buat ngeblog setelah sekian lama padam. Usia pernikahan saya masih seumur jagung….uppzz..salah, lebih muda dri jagung. Kalau jagung 3 bulan, rumah tangga saya baru mau berjalan dua bulan, karenanya belum banyak kisah seputar suka duka berumah tangga yang bisa saya share di sini…

Dulu…saya begitu terheran-heran dan tak habis pikir, dengan kisah beberapa orang yang saya kenal, dimana mereka begitu berani memutuskan menikah hanya melalui perkenalan yang sangat singkat -berkisar satu hingga tiga bulan- dan dengan frekuensi pertemuan yang sangat sedikit, sekitar 3 atau 4 kali pertemuan. Jika saya tanya, mereka akan menjawab, ya seperti itulah kalau sudah jodoh, merasakan kemantapan hati tanpa banyak pertimbangan atau embel-embel.  Lalu saya berpikir, bisakah saya seperti mereka, hanya ketemu beberapa kali dengan perkenalan yang sangat singkat, lalu memutuskan untuk menerima ajakan menikah.

Hmm…sungguh tak pernah menyangka saya akan menjalani proses seperti yang dialami beberapa teman. Dalam benak saya, saya akan menikah dengan seseorang yang telah saya kenal lebih dahulu, begitu pun seseorang itu, kemudian kami saling menyukai, dan akhirnya menikah. Kenyataannya…saya bertemu dengan suami sebelum menikah justru hanya dua kali. Woow…sekarang giliran banyak orang yang nanya ke saya..kok bisa sih..kok berani sih..Pertama ketemu saat datang melamar tanggal 4 februari, dan kedua kalinya ya saat walimahan, tanggal 23 maret. Kenalnya kapan..?? kenalan awal via bbm, tanggal 2 desember.  Kami berkenalan tidak secara kebetulan, seorang saudara sepupu di Palembang yang berinisiatif mempertemukan kami berdua di bbm. Kalau kata suami, tanggal 5 desember adalah tanggal di mana ia memberanikan diri mengajak saya menikah setelah kenal selama tiga hari, tapi menurut saya sehari setelah kenalan atau besok malamnya udah ngomong ngajakin nikah..ato mungkin saya aja kali ya yang kegeeran..hehe…

Lalu gimana bisa saya begitu cepat memutuskan untuk menerima ajakan menikah… Tentu saja bukan tanpa alasan atau hanya karena sudah dikejar usia yang tak muda lagi…(hadeeeh…berat euuy nulisnya..xixixi..), sama seperti halnya suami yang begitu cepat memutuskan untuk menjadikan saya sebagai istrinya, juga bukan tanpa alasan. Namun kalau dari pihak suami…salah satu alasan yang paling kuat adalah karena mendapat dukungan penuh dan restu 100 % dari kedua orangtuanya, mengingat bahwa ridho Allah ada pada ridho orang tua. Dan saya sendiri..salah satu alasannya adalah ya karena (calon) suami saat itu merasa yakin dan mantap banget ama saya…jadi kebawa mantap juga… 😀

Namun ada hal yang unik di balik proses walimahan saya ini, ternyata…bertahun-tahun yang lalu…saat saya masih kuliah, tanpa disadari bahwa saya dan suami sebenarnya pernah bertemu, saat saya dan keluarga bertamu ke rumah keluarganya (keluarga suami saya memang bukan orang asing, artinya antara keluarga memang sudah saling mengenal…kebetulan masih ada hubungan keluarga dari pihak ibu mertua, dan itu juga yang membuat saya tidak begitu canggung dengan ibu mertua, di mata saya..sudah seperti menggantikan posisi almarhumah ibunda saya). Saya ingat ketika itu melihat ada beberapa remaja kakak adik tengah berkumpul di ruang keluarga..dan salah satu di antaranya…ternyata…tanpa pernah terpikirkan sedikitpun, bahwa kelak…bertahun-tahun kemudian…akan menjadi pendamping hidup saya. Juga pernah..ketika saya dan kakak saya mendatangi salah satu kios di stasiun kereta di Tj. Karang, untuk menemui ibunya suami..namun kami tak bertemu, saya dan kakak hanya bertemu dengan seorang laki-laki yang tengah menunggui kios, laki-laki itu ternyata di masa mendatang menjadi suami saya. Masya Allah..di sinilah kuasa Allah..misteri yang tak pernah dapat kita tebak, tentang jodoh yang telah dipersiapkan Allah..

Saya sangat bersyukur..di tengah-tengah penantian panjang saya..akhirnya Allah menjawab doa-doa saya, membuktikan bahwa janjinya adalah benar, jodoh manusia memang telah dipersiapkan, tinggal bagaimana kesabaran dan ikhtiar panjang melalui lantunan doa yang tiada henti dalam menanti janji Allah tersebut.

Semoga Allah meridhoi rumah tangga saya, ibarat kapal yang tengah berlayar, rumah tangga saya baru saja memulai pelayarannya…entah rintangan apa yang akan kami hadapi di tengah laut nanti, saya hanya terus-menerus berdoa..agar Allah senantiasa meridhoi kami berdua..membantu saya dan suami untuk selalu kuat dalam mengahadapi masalah apapun…membantu kami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah…aamiin ya Robbal’alamiin…

Untuk yang sedang dalam masa penantian..sabar dan terus berdoa, jangan pernah berputus asa, karena janji Allah benar adanya…semangaaaat… 😀

 

 

Pengalaman Mengerikan Tak Terlupakan

Image

Halaman Depan Rumah

Beginilah kondisi jalanan depan rumah saya jika hujan turun begitu lebat. Banjir setinggi kurang lebih 30 cm ini merupakan pemandangan sehari-hari yang tak aneh. Foto ini saya ambil hari jumat lalu dari depan rumah saat hujan turun dengan derasnya, sampai akhirnya saya membatalkan agenda karena tak dapat keluar rumah. Namun untungnya banjir seperti ini hanya numpang lewat, tidak pernah sampai masuk rumah (dan semoga tak akan ada kejadian sampai masuk rumah, aamiin..), karena di ujung sana ada kali yang cukup besar sebagai penampungnya. Kali itulah sebagai penyelamat daerah sekitar rumah saya dari banjir yang masuk ke dalam rumah. Sementara di beberapa blok lain, banjir bisa sampai masuk ke dalam rumah warga. Daerah blok saya termasuk beruntung.

Dua hari berturut-turut Bogor mengalami hujan yang sangat deras. Bukan Bogor namanya kalau tidak ada hujan yang turun deras dengan tiba-tiba. Kalau kata orang sih..ciri khas orang Bogor itu pasti di tasnya ada payung. Yaa..itu benar, karena sesuai dengan namanya, kota hujan, Bogor itu emang hujan melulu kerjaannya. Jadi payung emang harus selalu tersedia setiap saat.

Karena itu pula,untuk pengguna kendaraan umum seperti saya yang namanya basah kuyup karena kehujanan bukan hal aneh. Terlalu sering saya mengalaminya. Namun hari sabtu kemarin saya mengalami basah kuyup kehujanan dengan agak berbeda, dan sepertinya baru kali ini saya mengalaminya. Saya kedinginan dengan sangat menggigil, sampai tulang punggung saya sakit sekali, belum pernah saya merasakan hal begitu, bahkan saya sampai berpikir..beginikah rasanya orang yang mau mati karena kedinginan (lebay gak yaaa..??? :D)Tapi setelah saya pikir-pikir, sepertinya itu karena kejadian saya kehujanan adalah pada malam hari.

Berawal dari saya yang pulang selepas maghrib. Kebetulan pada saat itu kantor sudah sepi, tinggal saya berdua dengan seorang siswi. Kebeneran..murid saya ini kemana-mana bawa motor, nebeng dong jadinya (kalah nih gurunya :D). Tanpa diduga hujan turun dan langsung deras. Saya pikir daripada kehujanan di motor, lebih baik saya turun. Saya bisa pakai payung dan jaket, yang saya begitu yakin ada di tas, dan tinggal nunggu bis aja sambil payungan. Akhirnya saya minta turun aja. Pas ketika motor murid saya melaju, ya Allah ya Robbi..baru ingat kalau saya nggak bawa payung, gak bawa jaket. Duuuh…beneran asli udah mau nangis rasanya. Hujan turun dengan semakin deras. Saya bingung..saya basah kuyup. Dalam keadaan putus asa, saya menoleh ke belakang, ternyata di belakang ada beberapa warung kecil, dimana sudah banyak pula pengendara motor yang berteduh di sana. Seseorang dengan baik hati memberi tempatnya untuk saya berteduh, dan orang tersebut minggir ke tempat lain. Itulah sekali-sekalinya saya begitu menyesal..kenapa bisa ketinggalan..kenapa bisa..kenapa bisa…

Ketika hujan sudah agak reda, saya ke depan jalan, menunggu bis. Tapi akhirnya saya memutuskan naik angkot saja ke Warung Jambu, di sana tempat bis-bis ke arah Parung biasanya ngetem. Tepat sampai depan halte bis, hujan kembali turun deras, tapi saya harus turun dan melewati hujan, karena bis Pusaka sudah menunggu di depan. baju yang sedikit berkurang basahnya, kembali basah kuyup. Saya mulai kedinginan.

Di bis saya tertidur. Kedinginan saya mulai berkurang. Tapi suasana gelap sekali. Ketika terbangun, saya tidak tahu sudah sampai mana. Saya hanya sempat melihat ada Bank BRI, jadi saya pikir sudah sampai Parung. Jadilah saya berjalan ke arah pintu. Ooh..rupanya baru sampai Telaga Kahuripan.
“Mau turun di mana, Neng?” Kenek bis yang seorang bapak tua bertanya.
“Parung, tapi saya salah liat, belum nyampe taunya.”
“Iya..Parung jauh keneh. Duduk dulu aja.”
Saya kembali duduk, tapi saya bukan duduk di tempat semula yang agak ke dalam, melainkan di bangku yang dekat pintu. Angin malam di tambah cuaca dingin karena hujan belum berhenti mulai menerpa badan saya. Saat itulah dengan tiba-tiba saya merasakan dingin yang teramat sangat. Dingin yang belum pernah saya rasakan. Saya mencoba tak ambil peduli, dengan tetap membalas bbm teman yang kebetulan masuk. Tapi ternyata tak bisa, badan saya menggigil, pulang tunggung mulai terasa sakit sekali. Beberapa menit saya mengalami hal tersebut. Entah kenapa, dalam kondisi itu, saya justru teringat film Titanic, membayangkan mungkin seperti inilah rasanya korban-korban dari peristiwa Titanic yang meninggal karena kedinginan. Saya menutup mata..dan mulai berdoa..ya Allah, mohon kuatkan hamba. Saat itu saya takut sekali..takut saya sampai pingsan, bahkan mungkin lebih parah dari itu. Tapi alhamdulillah…akhirnya suhu tubuh saya mulai stabil. Saya tidak lagi menggigil, punggung saya tidak lagi sakit, meskipun masih merasa kedinginan. Sepertinya ini pengalaman pertama saya, dan beryukur Allah masih melindungi saya.