Mau Tampak Menarik: Punya Lesung Pipi Aja…^_^

Image

Idan di rumah Nenek/Kakeknya di Jakarta

Kenapa dengan tiba-tiba saya ingin membuat postingan dengan tema lesung pipi..??Karena saya habis lihat-lihat foto keluarga saya. Keluarga besar saya memang menurunkan gen yang sangat dominan untuk urusan lesung pipi ini. Dari 5 bersaudara, 4 diantaranya berlesung pipi. Semua cucu di keluarga saya yang hingga saat ini berjumlah 7 orang, 6 diantaranya berlesung pipi. Jika diamati, berarti dari satu generasi ada seorang yang tidak berhasil diturunkan, dan itu satu-satunya yang saya sesali, karena sayalah yang tidak berhasil mendapatkan lesung pipi ini…hiks..Namun setidaknya saya masih memiliki gen resesif yang dapat menjadi dominan (terlihat/tampak) untuk diturunkan pada keturunan saya kelak jika saya berpasangan dengan laki-laki yang juga memiliki gen resesif atau dominan lesung pipi. Namun jika si laki-laki tidak membawa gen lesung pipi..maka saya hanya akan menurunkan sifat pembawa saja pada anak-anak yang perempuan. Nah…kenapa jadi kayak pelajaran biologi gini yah…entahlah…saya hanya menulis apa yang ada di otak saya.

Kemudian saya akhirnya gugling tentang lesung pipi/lesung pipit atau kalau orang Jawa bilang ‘dekik’. Berikut artikel tentang lesung pipi yang saya copas dari Wikipedia: Lesung pipit[1] atau lesung pipi adalah lekukan pada kulit yang terbentuk pada pipi beberapa orang, terutama ketika mereka tersenyum (bisa jadi tidak terlihat jika orang tersebut adalah laki-laki yang memiliki rambut pada wajahnya).
Pada beberapa kebudayaan (termasuk di Indonesia), lesung pipit menjadi suatu daya tarik tersendiri. Orang yang memiliki lesung pipit dianggap sebagai orang yang menarik.

Yang ini saya copas dari: http://health.detik.com/read/2010/12/29/140137/1535156/763/kenapa-bisa-muncul-lesung-pipit-di-pipi

Seperti dikutip dari NCTimes, Rabu (29/12/2010) Dr Joel Pessa, seorang ahli bedah plastik di University of Texas Health Science Center dalam makalah yang diterbitkan jurnal Clinical Anatomy tahun 1998, menuturkan lesung pipit disebabkan oleh kecacatan dari otot zygomaticus utama.

Lesung pipit yang muncul pada wajah seseorang diakibatkan oleh otot zygomaticus utama yang lebih pendek daripada ukuran sebenarnya atau otot ini terbelah menjadi dua, kondisi ini menyebabkan adanya lekukan pada pipi.

Ketika seseorang tersenyum atau berbicara, maka ada daya tarik dari kulit yang membuat lesung pipit muncul akibat efek penarikan kulit tersebut. Hal ini diketahui setelah peneliti membedah anatomi wajah 50 mayat yang memiliki lesung pipit. Lesung pipit umumnya tidak terlihat ketika seseorang sedang diam, karena otot pipi tersebut tidak mengalami penarikan atau dalam posisi diam.

Beberapa orang ada yang hanya memiliki lesung pipit ketika masih anak-anak atau muda. Hal ini karena seiring waktu otot wajah ini secara perlahan akan meregang yang membuat lesung pipit memudar atau hilang.

Yaah…terlepas dari punya atau tidaknya lesung pipi, kecantikan atau ketampanan seseorang yang sebenarnya adalah berasal dari akhlak yang baik,keimanan dan ketakwaannya pada Allah SWT, bukan dari lesung pipi. Cantik atau tampan dengan dekik yang tajam…kalau kelakuan nggak bener..yaa jelek-jelek juga akhirnya…

Begini Tandanya Jika Bocah Lapar

Image

Sore ini, saya menghabiskan waktu bersama keponakan saya, Wildan. Nggak kemana-mana, di rumah aja. Si bocah asyik maen game Ninja Saga, saya di dapur, nyiapin masakan buat ayah saya.

“Dan..Dan..ini masih ada sisa sate, mau nggak?” Saya menyodorkan sate yang bersisa 5 tusuk.

“Pedes nggak, Tan?”

“Nggak, nih abisin aja.” Dicoba satu oleh dia.

“Huum….” Ujarnya. Langsung piring di tanganku di ambil dan di bawa ke depan.

“Abisin yaaa..”

“Iyaaaaa..”

Saya asyik lagi di dapur. Wildan datang ngembaliin piring sate tadi.

“Tan, pisaunya bersih nggak?” Tanyanya sambil menunjuk pisau di dekatku.

“Bersih, kenapa..?”

“Aku potong ya kuenya..” Pintanya sambil menunjuk ke atas kompor.

Aku menoleh, oh iya…ternyata aku meletakkan cake buah di atas kompor karena semutan, berharap semut-semutnya hilang karena suasana panas di sekitar kompor.

“Iya, potong aja..bisa kan sendiri?”

“Iya, bisa” Dipotonglah cake buah tersebut, dan kembali di bawa ke depan.

Eh..nggak berapa lama si bocah muncul lagi.

“Tante masak apa?”

“Ini..buat kakek.”

“Nggak bikin tempe, Tan?”

“Tempe?”

“Iya..yang dipotong kotak-kotak itu.”

“Oh, itu…Idan mau?”

“Emang ada?”

“Ya nggak ada, nanti tante bikinin.”

“Tapi disambel ya, Tan?”

“Disambel?” Saya agak kaget, karena setahu saya nih anak paling takut ama pedes, persis sama kayak ayahnya (kakak saya). “Emang Idan pernah nyobain yang disambel?”

“Pernah..yang waktu itu tante buat, yang dicampur ikan asin.”

Ooowh…saya sendiri udah lupa ๐Ÿ˜€

“Iya, deh…ntar tante buatin.”

“Tapi yang disambel ya, Tan..”

“Iya…”

Kemudianย  bocah balik lagi ke ruang depan, melanjutkan permainannya.

ย 

Sore itu perut saya agak sakit, sumilangeun kalau orang Sunda bilang. Jadi masakan yang belum jadi saya tinggalin sebentar. Saya tidur-tiduran di kasur depan TV. Wildan ke dapur mengambil air minum, kemudian mendekati saya.

“Tan, aku makan ya..?”

“Makan apa?”

“Itu…ada ayam goreng, masih di atas kompor.” Oh iya..saya tadi emang belum mindahin ayam yang barusan di goreng, masih di atas wajan.

“Oh, ya udah, ambil aja.” Wildan balik lagi ke dapur. Tiba-tiba saya tersadar, nih anak pasti laper, bolak-balik ke dapur nyari makanan.

“Idaaaan….makan ayamnya pake nasi. Nasinya ambil sendiri ada di dandang.”

“Iyaaaa, Tan..”

Dan..akhirnya…makanlah dia dengan lahap. Setelah itu nggak lagi bolak-balik ke dapur. Hadeuuuh…jadi laper ceritanya… ๐Ÿ˜€

ย 

Dia itu…adik sekaligus teman…

Kami semua terdiri dari 5 saudara. Tiga diantaranya sudah menikah dan tak serumah lagi. Praktis di rumah tinggal bertiga, saya, adik bungsu, dan ayah. Ibu saya sendiri telah berpulang ke rahmatullah sejak tahun 2007. Saya dan adik bungsu ini banyak menghabiskan waktu bersama, walau pada akhirnya karena kecelakaan motor yang menimpanya akibat ngantuk di jalan, ayah saya tidak mengizinkannya lagi untuk pulang pergi Bogor-Pondok Labu. Ia disuruh kost saja di daerah sana, pulang seminggu sekali kalau pas libur kerja. Kami menjadi jarang ketemu, terutama karena saya juga kerja dan sering pulang malam. kadang-kadang pas adik saya ini pulang, justru saya seharian di luar rumah sampai malam, untuk urusan kerja tentunya….bukan kelayapan.. ๐Ÿ˜€

Namun dengan sedikitnya frekuensi pertemuan kami, justru kadang-kadang timbul momen-momen lucu yang tak terlupakan. Biasanya kalau pas banget kami ketemu, saya libur dan dia pun libur, langsung kami manfaatkan buat jalan. “Yuk..jalan yuk..” Pasti salah satu ada yang memulai kalimat tersebut. Pernah suatu hari..saya bete dan manyun habis-habisan. Perkara sepele…pas mau berangkat rapat (waktu itu sedang persiapan bimbel baru), saya nggak berhasil menemukan pakaian yang match, pake ini gak cocok, pake itu..terlalu ngejreng..yang ini..belum di gosok..Huuuh..pokoknya saya benar-benar udah bete duluan, muka ini kelipat-kelipat nggak karuan. Ketika adik saya pulang, dia bisa melihat wajah bete saya, dan bertanya kenapa. Pas saya jelasin dia hanya ketawa ngakak, huuuuft…tambah manyun deh. “Yuk. ke Cibinong..udah batalin aja nggak usah datang,” ajaknya kemudian. Kami memang kerap maen ke Cibinong, ke tempat kakak saya yang pertama, walaupun sampai di sana toh kami nggak ngapa-ngapain, paling numpang tidur. Dan jadilah hari itu manyun saya hilang karena di ajak jalan.. ๐Ÿ˜€

Dalam beberapa situasi, kadang saya dan adik saya ini lebih seperti teman ketimbang saudara. Namun dilain hal saya bisa bersikap sebagai seorang kakak terhadap adik, memberinya nasehat atau kadang-kadang memarahinya jika ada sesuatu hal yang tidak tepat dia lakukan, kadang juga sebaliknya,,dan saya bisa dengan polosnya mengikuti apa maunya dia. Seperti kejadian hari itu, kami berdua menghabiskan sore yang cerah dengan jalan-jalan ke mall. Ada sebuah jaket yang sangat menarik perhatian saya, ketika sedang mencoba-coba sambil melihat harganya, dengan cepat adik saya mengambil dan meletakannya kembali. “Udah..jaket Cema udah banyak.” Cema adalah panggilan adik saya ke saya..dan hanya dia seorang yang memanggil saya dengan sebutan “Cema”. Dan saya pun nurut..karena yaa..benar juga apa katanya.ย  Di lain kesempatan, saya tertarik dengan sebuah baju atasan. Saya adalah penggemar warna pink dan ungu. Maka dengan otomatis pakaian apapun akan selalu tampak menarik hanya untuk dua warna tersebut. Saya langsung mengambil yang berwarna ungu, kalau ada pink tentulah saya akan galau. Ketika adik saya melihat, lagi-lagi dia dengan cepat mengambil baju di tangan saya dan meletakkan di tempatnya. “Baju Cema yang ungu udah banyak, nih..orange belum ada.” Saya masih mau ngeyel..tapi dia dengan cepat menarik tangan saya..”Udah…yang orange juga bagus.” Naah…kalau udah gitu..saya dengan polosnya manut aja. Udah kayak dia aja yang jadi kakak. Kami kemudian ke kamar pas. Adik saya juga mengambil baju dengan warna sama. Dan di kamar pas…dengan pedenya kami berdua foto-foto, lumayan lama. Padalah itu baju belum di bayar..dan bisa jadi sudah ada orang lain yang lagi ngantri mau ngepasin baju juga ๐Ÿ˜€

Tidak selamanya saya dan adik saya akur. Kadang-kadang kami bertengkar, biasanya urusan kerjaan. Rebutan nggak mau ngerjain..xixixixi…Kadang juga kami terlibat obrolan seru…saling curhat, ketawa ketiwi berdua, sampai-sampai ayah saya kepo, mau tauuu aja apa yang diobrolin. Namun momen paling tak terlupakan bersama adik saya ini adalah jika kami berdua harus mengangkat galon aqua. Persediaan galon di rumah ada dua. Jadi kalau satu habis, maka otomatis yang satunya kami sendiri yang ngangkat. Urusan ngangkat galon ke dispenser ini emang tugas kami berdua. Tapi…sekalipun belum pernah kami berhasil ngangkat galon dengan normal tanpa ada tumpahan air. Setiap ngangkat galon selalu didahului dengan ketawa cengengesan…saya sendiri lupa bagaimana awal kejadiannya. Yang jelas..sampai sekarang, kalau harus ngangkat galon..pasti sebagian airnya akan muncrat tumpah, sebanyak cengengesan kami berdua. Pernah sekali saya dengan perjuangan yang sangat berat, berusaha untuk tidak tertawa, tampang dibuat serius, cenderung lebay sih seriusnya. Adik saya langsung ngomong, “Udah deh..nggak usah sok serius, keliatan cema itu mau ketawa.” Aaah..ternyata saya tidak berhasil menyembunyikan sedikit tarikan ujung bibir. Ketika suatu saat..saya benar-benar berhasil untuk tidak tertawa..laaah..malah adik saya yang udah ketawa cengengesan duluan.

Banyak memang momen-momen indah yang tak terlupakan bersama adik bungsu saya ini, karena kami memang banyak menghabiskan waktu bersama-sama. Tapi mungkin itu semua hanya akan menjadi kenangan, entah kami masih bisa jalan-jalan berdua lagi atau tidak, masih bisa ketawa ngakak berdua atau tidak kalau lagi nonton, atau cengengesan ngangkat galon, karena..sebentar lagi adik saya ini akan mengakhiri masa lajangnya, meninggalkan saya sendiri..

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway ‘Sweet Moment’ yang diselenggarakan oleh UnTu

Zaman memang sudah berubah….

Setiap musim libur, terutama libur lebaran…rumah (ortu) sya emang jadi rame. Karena ponakan-ponakan saya yang kebetulan rumahnya gak terlalu jauh -hanya berselang 3 rumah- lebih sering menghabiskan waktunya buat maen di rumah. Kalau saya kebetulan kerja, biasanya mereka sms dulu..tante ada di rumah gak? atau tante pulang jam berapa? Tapi kalau udah liburan gini..ya otomatis langsung ke rumah.

Pernah ada kejadian, Wildan dan Vira, dua ponakan saya dari kakak no.2 ini udah nungguin saya di rumah. Mereka nunggu dari sore sampe malem. Gak sabaaaar banget pengen cepet2 pulang..kasian mereka udah nungguin mau maen, karena sya juga pulang gak sesuai janji ke mereka. Sampe di rumah…ternyata mereka berdua udah keburu pulang. Yang tersisa hanya bekas mainan yang masih berantakan….hiks..hiks…sedih banget waktu itu. Kadang-kadang saya berpikir…gimana mungkin ada seorang ibu yang tega ninggalin anak-anaknya seharian buat kerja cari uang, padahal suaminya sudah mampu menafkahi tanpa kekurangan. Hanya dengan alasan…sayang kuliah tinggi-tinggi..kalau gak dipake kerja. Okelah…itu pilihan dan keputusan mereka sendiri, tapi saya yang biasa memberi privat ke anak-anak sekolah, dapat melihat perbedaan sikap dari siswa2 dengan ibu yang bekerja seharian dengan siswa yang mendapat pengawasan dan perhatian penuh dari ibunya yang murni ibu rumah tangga. Upps..tapi postingan kali ini sebenarnya bukan mau membahas tentang itu sih…

Back to topic….

Naah…rumah saya sekarang udah hampir tiap hari rame ama ponakan. Kebetulan ada satu ponakan dari kakak saya yang pertama, yang tinggal di Cibinong, udah ngeduluin keluarganya buat nginep di rumah, walaupun judulnya nginep di rumah kakek, dalam prakteknya ia lebih sering nginep di rumah kakak yang kedua. Bertiga ponakan-ponakan ini ngabisin waktu di rumah. Ribut…ketawa-ketiwi…becandaan, kadang-kadang asyik dengan aktivitas masing-masing, tapi yang jelas gak jauh dari laptop atau psp. Saya hanya mengawasi…dan saat mengawasi itulah pikiran saya menerawang jauh…saat masa kanak-kanak…

Sungguh berbeda…sangat berbeda…tiga ponakan saya ini, demikian bahagianya bermain walau hanya bertiga. Tak ada anak tetangga yang ikut meramaikan. Segitu mereka sudah demikian menikmati. Zaman saya anak-anak dahulu, rumah ayah saya bisa dikatakan sebagai base camp anak-anak. Rumah dinas ayah saya di Palembang emang lumayan besar, halaman dan berandanya luas. Ayah saya termasuk protektif…gak ngebolehin anak-anaknya maen keluar rumah. jadi kalau mau maen..semua teman-teman di suruh ngumpul aja di rumah. Tapi karena itu..ayah saya memfasilitasi dengan aneka permainan, juga termasuk permainan olahraga seperti pingpong dan badminton. Jadilah jika liburan tiba atau bulan puasa..rumah saya akan ramai dengan anak-anak. Bisa sampai belasan orang ngumpul di rumah sambil nunggu berbuka. Semua yang ada di rumah itu nanti terbagi dalam kelompok-kelompok kecil..ada yang main monopoli, ular tangga, catur, pingpong, dsb. Suasana seperti itu mungkin sudah tak dapat lagi ditemui di masa kini..zaman sudah berbeda…Namun seandainya anak-anak zaman sekarang berkesempatan untuk merasakan suasana seperti yang saya alami dahulu..saya yakin..mereka memilih suasana bermain seperti di masa dulu…