Khayalan Tingkat Tinggi

Khayalan…siapa sih yang nggak pernah ngelakuinnya. Saya yakin hampir setiap orang pasti pernah berkhayal, apapun bentuk dan tipe khayalannya. Ada yang khayalannya masuk akal, ada yang tidak sama sekali. Menurut saya khayalan yang masuk akal dan bisa dicapai asal dibarengi dengan usaha dan kerja keras serta iringan doa, maka itu adalah impian atau cita-cita. Namun jika khayalan tersebut sebenarnya masuk akal dan dapat dicapai, namun tidak ada usaha untuk mencapai khayalannya itu sendiri, maka selamanya akan tetap menjadi khayalan. Berkhayal punya mobil, tapi malas bekerja dan berusaha, selamanya punya mobil itu hanya akan menjadi khayalan.

Baiklah, saya tidak akan membahas panjang lebar tentang jenis-jenis khayalan. Di sini saya hanya akan bercerita apa yang telah menjadi khayalan saya selama ini. Namun karena saya merasa yakin bahwa sebenarnya apa yang menjadi khayalan saya ini dapat dicapai, maka selanjutnya saya akan menyebutnya sebagai impian saya.

Banyak sekali impian yang bergelayut selama ini di dalam otak saya. Namun keinginan yang paling besar dalam hidup saya ada tiga. Saya tidak memasukkan keinginan untuk menikah dan memiliki keluarga kecil yang bahagia, karena menurut saya itu bukan khayalan atau impian, itu adalah sesuatu yang insya Allah memang akan terjadi, walaupun tetap harus dibarengi dengan doa.

Impian besar dalam hidup saya antara lain:

1. Saya ingin memiliki usaha home industry dengan merangkul ibu-ibu dan remaja puteri di lingkungan tempat tinggal saya.

Keahlian saya merajut (walaupun sebenarnya belum ahli-ahli banget sih..) ingin sekali saya tularkan pada ibu-ibu dan remaja puteri yang kebetulan selepas SMA tidak bekerja atau melanjutkan kuliah. Saya pikir daripada melihat mereka berdiri bergerombol,ngobrol-ngobrol yang gak jelas di depan rumah, yang ujung-ujungnya ghibah, lebih baik mengajak mereka pada kegiatan bermanfaat yang dapat menghasilkan income. Tidak harus di lingkungan tempat saya tinggal. Mungkin jika kelak Allah mengizinkan saya menikah dan ikut suami, maka saya dapat melakukannya di lingkungan tempat suami tinggal. Kegiatan ini dulu pernah coba saya rintis, berkoordinasi dengan Murobbi (guru ngaji) saya. Sudah cukup banyak ibu-ibu yang mendaftar ingin mengikuti kegiatan belajar merajut. Saya bahkan sudah membeli benang dan hakpen yang cukup banyak. Sayangnya..surat resign yang saya ajukan 2 tahun lalu, tidak di acc. Setelah bernegosiasi dengan pihak managemen, saya akhirnya kembali bekerja dan kegiatan terpaksa dipending. Walaupun toh akhirnya setahun kemudian saya kembali mengajukan resign, dan kali ini langsung di acc, karena sudah tak mungkin ditahan lagi. Keinginan memberdayakan ibu-ibu dan remaja puteri untuk mendirikan home industri rumah rajut, tetap menjadi impian saya yang semoga kelak dapat terwujud.

2. Menjadi Novelis

Ini adalah impian saya sejak kecil. Sejak SD saya sudah hobby mencoret-coret di kertas membuat cerita fiksi. Jaman saya SD dulu belum ada komputer, boro-boro internet. Saya menulis cerpen anak-anak di kertas atau buku. Sesekali di mesin tik. Namun cerpen-cerpen tersebut, hanya menjadi konsumsi pribadi. Saya meminta teman-teman dan saudara untuk membacanya. Ada satu kejadian dengan kakak sulung saya yang masih saya ingat sampai sekarang (bahkan dia pun saya yakin sudah lupa). Ketika kakak saya membacanya, ia mengira bahwa saya menulis ulang dari majalah anak-anak. Ketika saya bilang itu hasil saya sendiri, ia tidak percaya. Kami sempat ngotot-ngototan saat itu. Haha..lucu sekali. Namun akhirnya kakak saya percaya juga kalau itu buatan saya. Keinginan untuk menjadi novelis, selamanya hanya akan menjadi khayalan jika saya tak berusaha mewujudkannya. Saya tahu bahwa saya masih setengah-setengah dalam mewujudkannya. Usaha dan kerja keras saya kurang. Kadang-kadang saya menganggap kesibukan kerja yang menjadi penghalangnya, namun jika dipikir-pikir, orang lain yang jauh lebih sibuk masih bisa meluangkan waktunya untuk menulis. Berarti masalahnya ada di saya, niat ada namun kemauan kurang kuat. Kok malah jadi curcol yah…http://www.smileycodes.info Tapi impian ini tetap selalu ada dan tak pernah hilang. Saya memimpikan kelak di toko-toko buku, akan bertengger novel-novel karya saya sendiri. Novel-novel tersebut menjadi best seller, di filmkan, dan saya menjadi pembicara untuk pelatihan-pelatihan menulis. Wuiiih…itu bukan khayalan semata, jelas dapat terwujud jika diusahakan. Namun untuk beberapa alasan, kadang saya juga harus mengedepankan realita. melihat kesanggupan dan mengukur batas kemampuan diri. Yang pasti, keinginan untuk menjadi novelis yang dulu saat kuliah sempat terkubur, semoga kelak benar-benar dapat terwujud, aamiin..

3. Beribadah ke Tanah Suci

Siapa sih yang tak ingin mendatangi rumah Allah. Saya yakin semua umat Islam pasti memiliki keinginan tersebut. Kadang saya iri dengan teman-teman yang telah berkesempatan lebih dahulu untuk menjalankan ibadah umroh.  Sementara saya masih harus menyimpan keinginan tersebut dalam-dalam. Tabungan saya kebetulan sudah digunakan untuk keperluan lain, membangun rumah kontrakan, dan itupun belum selesai, sehingga saya harus kembali menabung dari awal jika ingin tetap ke sana. Namun impian saya sebenarnya sih ingin ke tanah suci bareng suami, semoga ini pun dapat terwujud, aamiin..

Demikian tiga impian besar dalam hidup saya, yang saya tahu pasti selamanya hanya akan menjadi khayalan jika saya tak berusaha mewujudkannya. Sebenarnya ada tambahan dua lagi, saya berkhayal bahwa bimbel yang saya dirikan bersama teman-teman akan berkembang pesat, membuka cabang di mana-mana, mendirikan franchise, memiliki banyak karyawan, sehingga kami sebagai pendiri pada akhirnya bisa pensiun, ongkang-ongkang di rumah dan tinggal menerima hasil saja. Namun tidak saya masukkan sebagai khayalan pribadi, karena tentunya itu adalah keinginan bersama, bukan saya sendiri. Kemudian, karena saya hobby ngetrip, dan sekaligus penggemar drama Korea dan serial silat mandarin, saya selalu berkhayal suatu saat dapat berwisata ke Korea dan Hongkong. Baru kemudian dilanjutkan berwisata ke negeri-negeri yang indah di luar sana seperti Edensor, kepulauan Karibia, dan sebagainya. Namun mengenai wisata luar negeri ini, saya baru mengkategorikannya sebagai khayalan, bukan impian, ya..mungkin suatu saat bisa saja terwujud..who knows..?? Namun saya memang tidak terlalu berupaya untuk itu. Selanjutnya..saya hanya bisa berharap, setelah berusaha semaksimal mungkin, semoga Allah mendengar doa-doa saya, mengabulkan apa-apa yang menjadi impian saya. Aamiin..

“Khayalan ini diikutsertakan dalam Giveaway Khayalanku oleh Cah Kesesi Ayutea”

Prompt #22: Pembunuhan di Kapal Pesiar

Arumi memandang takjub kapal pesiar mewah di hadapannya. Di sanalah akan ia habiskan waktu selama sebulan penuh bersama suaminya, tuan Shekar Mohapatra, saudagar kaya dari India. Tidak tanggung-tanggung, tuan Shekar mengajaknya berpesiar ke Kepulauan Hawaii, Kepulauan Carribean, dan Alaska. Kapal pesiar yang mereka tumpangi pun kapal termewah di abad ini, Queen Mary 2.

 

Arumi cepat-cepat naik ke geladak kapal dan langsung menuju haluan. Sudah lama ia ingin mengikuti gayanya Kate Winslet di film Titanic. Ia rentangkan kedua tangan, menutup mata, menarik nafas dalam-dalam dan merasakan desiran angin. Ia menanti tangan suaminya yang mengikuti gaya Leonardi Di caprio. Namun alih-alih mendapat pelukan dari sang suami, yang ia rasakan justru sebuah benda tajam menyentuh punggungnya. Ia menoleh cepat, kaget. Seorang wanita muda berpakaian sari, menodongkan senapan laras panjang ke arahnya, jadi yang menyentuh punggungnya tadi adalah moncong senapan tersebut.
“Si..siapa kamu?” Arumi tergagap. Wanita itu tak berekspresi. Ah..jelas, ia pasti tak mengerti bahasa yang Arumi gunakan.
“Go to hell…!!!” Hanya itu yang sempat terdengar oleh Arumi, dan sebelum menyadari apa yang terjadi, letusan senapan telah tepat mengenai dadanya. Arumi terjatuh ke laut lepas.

 

Arumi mengejap-ngejapkan mata. Nafasnya bergerak  naik turun tak teratur. Keringat membanjiri wajahnya. Rupanya ia bermimpi…Di tangannya, ia masih memegang handphone, dengan layar sms yang masih terbuka, bertuliskan: “Bagaimana dengan tawaran Akang tadi? Bersediakah menjadi istri kedua Akang?”

 

jumlah kata : 226

ikut memeriahkan MFF prompt #22 : Bloating of Boat

Ada Kebebasan di Luar Sana

Dalam hidup ini, pastilah banyak pilihan-pilhan yang harus kita ambil, dengan semua konsekuensi tentunya. Butuh waktu yang tidak lama untuk menimbang baik buruk dalam pilihan tersebut. Mungkin sebagian besar orang, mengambil keputusan untuk menikahi seseorang adalah hal yang paling berat yang ia lakukan, karena pasangan itulah kelak yang akan bersama sepanjang hidup kita, melewati berbagai ujian, suka dan duka, namun tidak untuk saya. Kenapa…?? apakah saya dengan demikian mudahnya mengambil keputusan untuk menikah dengan seseorang tersebut, tanpa pertimbangan yang matang, tanpa pikir panjang, tanpa shalat istikharah, tanpa minta petunjuk pada Allah, seperti membeli kucing dalam karung? Tidak…bukan itu penyebabnya, jawabannya simple saja, karena saya belum menikah.. 😀 Tanpa bermaksud apapun ya..karena saya pikir ini adalah prolog yang paling pas untuk tulisan tentang pilihan hidup ini 😀

Baiklah, lalu pilihan berat apa dalam hidup yang telah saya buat? Setidaknya yang pernah saya alami sepanjang usia saya. Pilihan hidup yang paling berat yang saya lakukan, hingga memakan waktu bertahun-tahun (mungkin sekitar 4 tahun) untuk memikirkannya, sampai tidak tidur dan tidak makan -lebay dikit yak, biar rada horor :D- yaitu ketika saya memilih untuk resign dari pekerjaan, setelah mengabdi sejak tahun 2004. Ketika terbersit pikiran untuk resign pertama kalinya, saya memang tidak langsung melakukannya, karena butuh keberanian yang sangat kuat. Saat itu baru terniat saja, namun tak ada keberanian. Jelas saya nggak berani, pegangan selepas resign belum ada. Darimana sana saya harus mendapatkan uang bulanan untuk menutupi kebutuhan hidup. Pakai uang di tabungan? bisa bertahan berapa lama sebelum tabungan saya habis ludes. Menadahkan tangan pada orang tua? minta bantuan saudara-saudara? Oh no..it’s not me..Jadi terlalu konyol kalau saya berani resign pada saat itu. Namun niat resign tersebut tetap ada, dan terus ada. Saya hanya bisa bersabar..bertahan..Sementara beberapa rekan sudah ada yang mendahului..resign. Kegalauan pasti saya alami, antara bertahan atau menyudahi kepenatan. Rekan-rekan kerja yang menyenangkan, adalah salah satu yang membuat saya sanggup bertahan, namun tidak untuk urusan managemen.
Sampai akhirnya…ketika ada kebijakan baru dari seorang General Manager yang barusan diangkat, saya menjadi mantap untuk resign, tak ada gunanya lagi bertahan, setidaknya saya punya alasan yang sangatkuat untuk diajukan. Kebijakan baru tersebut,sangat merugikan pegawai-pegawai lama seperti saya. Walaupun ternyata…tak berapa lama berselang, sang GM baru tersebut pun resign karena berseberangan dengan pimpinan..hayyyah..cape deeeeh…Namun kebijakannya tetap dipertahankan hingga saat ini.

Banyak yang menyayangkan keputusan saya, terutama karena saya termasuk pegawai lama. Banyak memang yang saya korbankan, status, kepastian finansial tiap bulan, belum pesangon yang saya terima jika menikah (berdasarkan perhitungan, bisa puluhan juta). Namun ada yang tidak bisa ditukar dengan itu semua. Kebebasan..ya..saya butuh kebebasan. Saya butuh ruang untuk bebas bergerak, berkembang, memaksimalkan kemampuan yang saya miliki. Saya tidak bisa terus menerus terkungkung dalam rutinitas membosankan tanpa ada jenjang karir, menghabiskan waktu dan usia saya tanpa bisa mengembangkan diri.

Alhamdulillah..sekarang saya tidak lagi bekerja untuk orang lain. Saya bersama teman-teman mendirikan sebuah lembaga Bimbingan Belajar untuk adik-adik sekolah. Kami mengembangkan konsep sendiri, benar-benar sesuai dengan keinginan. Mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan di tempat lama. Kami juga dengan otomatis memberikan lahan pekerjaan untuk orang lain. Secara finansial..jelas belum sebesar yang saya terima jika masih bekerja di tempat lama. Semua tergantung usaha dan kerja keras. Jika ingin berkembang pesat, meraih banyak keuntungan, tentulah harus bekerja ekstra. Namun yang pasti…semua dikerjakan dengan ikhlas, tanpa tekanan, karena kami bekerja untuk perusahaan milik sendiri. Di samping itu, saya pribadi pun bisa mengembangkan wirausaha handmade rajutan yang saya tekuni, plus..masih punya cukup waktu untuk menggeluti dunia tulis menulis.

Saya tidak pernah menyesali keputusan yang saya ambil. Ketika uang tabungan saya sudah habis digunakan untuk membeli tanah dan membangun rumah kontrakan, yang belum selesai karena kehabisan dana, sementara pemasukan ke rekening belum stabil, saya mencoba memberi pengertian ke keluarga, tentang kondisi keuangan. Mereka bisa mengerti. Saya berpikir jangka panjang, mungkin untuk tahap awal, akan lebih banyak berkorban waktu dan tenaga, namun kedepannya…akan tinggal menuai hasil dari kerja keras bersama, insya Allah, aamiin…

“Postingan ini diikut sertakan dalam 4th Anniversary Emotional Flutter”

giveaway4

Ketika Malas Terkalahkan…

Saya memikirkan banyak hal, kira-kira usaha terbaik apa yang telah saya lakukan dalam hidup. Apakah berhasil masuk perguruan tinggi negeri? lulus tepat waktu? bekerja dan punya tabungan? Bikinin masakan yang enak untuk ayahku? Atau mengurus ponakan saat mereka nginep di rumah?Aaah…saya masih merasa itu bukan usaha terbaik saya. Baiklah….setelah berpikir keras, saya mencoba mempersempit “waktu” dalam hidup saya. Usaha terbaik dalam hidup saya untuk hari ini 😀

Yaa…hari ini saya merasa telah melakukan yang terbaik, yaitu: berhasil mengalahkan rasa malas untuk ngeberesin kamar dan isi lemari 😀

Sejak acara lamaran untuk adik saya di penghujung bulan Sya’ban yang lalu, kamar saya benar-benar bagai kapal pecah. Seluruh barang tumplek blek di dalam kamar. Mulai dari buku-buku yang biasa berserakan di meja ruang tengah sampai barang-barang kecil seperti battere, sisir, mouse, headset. Semua nyampur di atas kasur. Saya tidur pakai kasur bawah, kasur atas buat menampung barang-barang. Bukan tanpa alasan saya jadi malas ngeberesinnya, karena sekitar dua atau tiga hari sebelumnya saya baru habis-habisan bebenah kamar. Ketika acara lamaran adik saya..saya memang tidak ikut, karena nggak bisa ninggalin kerjaan, dan waktu itu kita juga tidak menyangka kalau pihak laki-laki datang untuk melamar, kirain silaturrahmi biasa. Naah..pas pulang malam hari..saya syock lihat isi kamar. Tidaaaaak…Ternyata keluarga saya menjadikan kamar saya sebagai “gudang” sementara. Jadilah saya memutuskan, ntar aja deh pas libur puasa dibenahi lagi.

Namun ternyata, selama libur puasa, justru maunya berleha-leha, susah sekali melawan rasa malas. Saya juga lebih prefer buatin souvenir untuk nikahan adik saya dari pada ngebenahin kamar. Tapi, alhamdulillah..entah kenapa, hari ini saya begitu bersemangat, mungkin juga karena sudah diniatin dari semalam, hari ini harus jadi beberes kamar. Pagi-pagi habis beresin dapur, langsung lanjutin ngebenahin kamar. Ketika ada yang nge-bbm, langsung takut..mudah-mudahan bukan teman yang ngajakin jalan. GR sih ceritanya, hehe…Ternyata teman dekat saya yang minta pola rajutan. Membenahi kamar, pasti sepaket dengan membenahi isi lemari. Tentu yang saya lakukan pertama kali mengeluarkan semua isi lemari. Menyortir pakaian-pakaian lama yang tak terpakai lagi. Ini sortir yang kedua, karena sebelumnya saya sudah melakukan hal yang sama. Ternyata..masih banyak juga pakaian-pakaian yang seharusnya tak perlu lagi ada dalam lemari. Pakaian-pakaian yang nggak kebagian tempat akhirnya bisa gantian masuk dalam lemari.

Barang-barang di atas kasur, tak lain dan tak bukan sebenarnya milik saya sendiri. Buku-buku persiapan masuk PTN, modul, kertas soal-soal UN dan PTN, novel-novel, dan dvd Korea aneka judul, berserakan dengan gembiranya. Alhamdulillah..semua sudah diletakkan di tempatnya masing-masing, bergabung kembali dengan teman-teman mereka yang sejenis… 😀 Ternyata, niat saja emang tidak cukup, harus diikuti kemauan yang keras.

Untuk hari ini, saya pikir itulah hal yang terbaik yang telah saya lakukan. Entah besok, lusa, bulan depan, tahun depan, semoga saya juga tetap bisa melakukan hal-hal terbaik lainnya.

Tulisan ini diikutsertakan dalam

give_away

Dia itu…adik sekaligus teman…

Kami semua terdiri dari 5 saudara. Tiga diantaranya sudah menikah dan tak serumah lagi. Praktis di rumah tinggal bertiga, saya, adik bungsu, dan ayah. Ibu saya sendiri telah berpulang ke rahmatullah sejak tahun 2007. Saya dan adik bungsu ini banyak menghabiskan waktu bersama, walau pada akhirnya karena kecelakaan motor yang menimpanya akibat ngantuk di jalan, ayah saya tidak mengizinkannya lagi untuk pulang pergi Bogor-Pondok Labu. Ia disuruh kost saja di daerah sana, pulang seminggu sekali kalau pas libur kerja. Kami menjadi jarang ketemu, terutama karena saya juga kerja dan sering pulang malam. kadang-kadang pas adik saya ini pulang, justru saya seharian di luar rumah sampai malam, untuk urusan kerja tentunya….bukan kelayapan.. 😀

Namun dengan sedikitnya frekuensi pertemuan kami, justru kadang-kadang timbul momen-momen lucu yang tak terlupakan. Biasanya kalau pas banget kami ketemu, saya libur dan dia pun libur, langsung kami manfaatkan buat jalan. “Yuk..jalan yuk..” Pasti salah satu ada yang memulai kalimat tersebut. Pernah suatu hari..saya bete dan manyun habis-habisan. Perkara sepele…pas mau berangkat rapat (waktu itu sedang persiapan bimbel baru), saya nggak berhasil menemukan pakaian yang match, pake ini gak cocok, pake itu..terlalu ngejreng..yang ini..belum di gosok..Huuuh..pokoknya saya benar-benar udah bete duluan, muka ini kelipat-kelipat nggak karuan. Ketika adik saya pulang, dia bisa melihat wajah bete saya, dan bertanya kenapa. Pas saya jelasin dia hanya ketawa ngakak, huuuuft…tambah manyun deh. “Yuk. ke Cibinong..udah batalin aja nggak usah datang,” ajaknya kemudian. Kami memang kerap maen ke Cibinong, ke tempat kakak saya yang pertama, walaupun sampai di sana toh kami nggak ngapa-ngapain, paling numpang tidur. Dan jadilah hari itu manyun saya hilang karena di ajak jalan.. 😀

Dalam beberapa situasi, kadang saya dan adik saya ini lebih seperti teman ketimbang saudara. Namun dilain hal saya bisa bersikap sebagai seorang kakak terhadap adik, memberinya nasehat atau kadang-kadang memarahinya jika ada sesuatu hal yang tidak tepat dia lakukan, kadang juga sebaliknya,,dan saya bisa dengan polosnya mengikuti apa maunya dia. Seperti kejadian hari itu, kami berdua menghabiskan sore yang cerah dengan jalan-jalan ke mall. Ada sebuah jaket yang sangat menarik perhatian saya, ketika sedang mencoba-coba sambil melihat harganya, dengan cepat adik saya mengambil dan meletakannya kembali. “Udah..jaket Cema udah banyak.” Cema adalah panggilan adik saya ke saya..dan hanya dia seorang yang memanggil saya dengan sebutan “Cema”. Dan saya pun nurut..karena yaa..benar juga apa katanya.  Di lain kesempatan, saya tertarik dengan sebuah baju atasan. Saya adalah penggemar warna pink dan ungu. Maka dengan otomatis pakaian apapun akan selalu tampak menarik hanya untuk dua warna tersebut. Saya langsung mengambil yang berwarna ungu, kalau ada pink tentulah saya akan galau. Ketika adik saya melihat, lagi-lagi dia dengan cepat mengambil baju di tangan saya dan meletakkan di tempatnya. “Baju Cema yang ungu udah banyak, nih..orange belum ada.” Saya masih mau ngeyel..tapi dia dengan cepat menarik tangan saya..”Udah…yang orange juga bagus.” Naah…kalau udah gitu..saya dengan polosnya manut aja. Udah kayak dia aja yang jadi kakak. Kami kemudian ke kamar pas. Adik saya juga mengambil baju dengan warna sama. Dan di kamar pas…dengan pedenya kami berdua foto-foto, lumayan lama. Padalah itu baju belum di bayar..dan bisa jadi sudah ada orang lain yang lagi ngantri mau ngepasin baju juga 😀

Tidak selamanya saya dan adik saya akur. Kadang-kadang kami bertengkar, biasanya urusan kerjaan. Rebutan nggak mau ngerjain..xixixixi…Kadang juga kami terlibat obrolan seru…saling curhat, ketawa ketiwi berdua, sampai-sampai ayah saya kepo, mau tauuu aja apa yang diobrolin. Namun momen paling tak terlupakan bersama adik saya ini adalah jika kami berdua harus mengangkat galon aqua. Persediaan galon di rumah ada dua. Jadi kalau satu habis, maka otomatis yang satunya kami sendiri yang ngangkat. Urusan ngangkat galon ke dispenser ini emang tugas kami berdua. Tapi…sekalipun belum pernah kami berhasil ngangkat galon dengan normal tanpa ada tumpahan air. Setiap ngangkat galon selalu didahului dengan ketawa cengengesan…saya sendiri lupa bagaimana awal kejadiannya. Yang jelas..sampai sekarang, kalau harus ngangkat galon..pasti sebagian airnya akan muncrat tumpah, sebanyak cengengesan kami berdua. Pernah sekali saya dengan perjuangan yang sangat berat, berusaha untuk tidak tertawa, tampang dibuat serius, cenderung lebay sih seriusnya. Adik saya langsung ngomong, “Udah deh..nggak usah sok serius, keliatan cema itu mau ketawa.” Aaah..ternyata saya tidak berhasil menyembunyikan sedikit tarikan ujung bibir. Ketika suatu saat..saya benar-benar berhasil untuk tidak tertawa..laaah..malah adik saya yang udah ketawa cengengesan duluan.

Banyak memang momen-momen indah yang tak terlupakan bersama adik bungsu saya ini, karena kami memang banyak menghabiskan waktu bersama-sama. Tapi mungkin itu semua hanya akan menjadi kenangan, entah kami masih bisa jalan-jalan berdua lagi atau tidak, masih bisa ketawa ngakak berdua atau tidak kalau lagi nonton, atau cengengesan ngangkat galon, karena..sebentar lagi adik saya ini akan mengakhiri masa lajangnya, meninggalkan saya sendiri..

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway ‘Sweet Moment’ yang diselenggarakan oleh UnTu