FIKSI: Perjuangan di Penghujung Hidup

Entah makanan apa yang telah masuk ke dalam perutku hari ini. Mungkinkah itu racun…???kalau benar siapa yang telah begitu jahat mencampurkannya ke dalam makananku. Siapa yang telah begitu tega pada makhluk lemah seperti aku. Kesalahan apa yang telah aku lakukan sehingga ada yang menginginkan kematianku. Oh Tuhan…aku tidak kuat….sakit sekaliiii…sakiiiit…..Oh..itu tuanku, ia tengah memandangku dengan iba dan bingung. Aku ingin berada dalam pelukannya sekarang. Aku ingin merasakan dekapan kasih sayangnya. Itu mungkin akan sedikit mengurangi rasa sakitku ini. Tapi…perutku…aku harus cepat-cepat keluar. Aku tidak boleh mengotori rumah tuanku yang baik ini dengan kotoranku. Aku harus cepat keluar rumah….duh…namun kaki ini begitu lemah, oooh….maafkan tuanku…maafkan aku…kotoranku telah keluar begitu saja tanpa dapat kucegah. Tuan…, kau tidak marah…???benarkah…???kau justru mengelus-elus kepalaku dengan sayang, dan tanpa banyak bicara dengan sabar kau bersihkan kotoranku. Tuan…matamu…matamu justru menatapku dengan iba dan penuh kesedihan. Maafkan aku tuan….aku begitu sakit, tak dapat lincah dan bermain-main denganmu seperti dulu….

 

Aku ingin mati saja…aku ingin mati…rasanya tak tahan lagi. Berhari-hari aku mengalami kondisi seperti ini. Sakit yang teramat sangat di perutku, kadang-kadang diikuti mual yang menyebabkan aku muntah tanpa dapat kutahan. Namun tuanku, seorang pemuda yang begitu lembut dan baik hati itu, tak pernah mengeluh dan dengan sabarnya selalu membersihkan setiap kotoran dan muntah yang kukeluarkan dimana-mana. Aku tahu aku telah begitu kurus kering sekarang, tak dapat sedikitpun makanan masuk ke dalam perutku. Aku tak ingin membebani tuanku. Karena itu aku ingin mati saja, agar berakhir penderitaan ini dan tak merepotkan tuanku lagi. Tapi..oooh…janinku…Aku memiliki janin yang hidupnya bergantung padaku. Jika aku mati, bagaimana dengan anak-anak di dalam rahimku ini…??? Tuhan telah menitipkannya padaku. Tegakah aku membunuh mereka dengan kematianku…??? Tidak…!!!! Aku harus bertahan hidup…harus bertahan….aku harus kuat…demi anak-anakku….

 

Seminggu penuh aku mencoba bertahan hidup demi anak-anakku. Badan ini sudah seperti tulang yang terbungkus kulit. Ya Allah…selamatkan anak-anakku. Izinkan aku melahirkan mereka dengan sehat dan selamat. Aku tak perduli lagi dengan sakit dan penderitaan yang kurasa. Hanya anak-anakku…anak-anakkulah yang menjadi penyemangatku, dan..tuanku….Ya Allah…limpahkan berkahmu pada tuanku yang sangat baik dan sabar ini. Kalaupun kelak aku harus meninggalkan anak-anakku selamanya, namun aku yakin bahwa tuanku yang baik akan menjaga mereka dengan penuh kasih sayang seperti ia menjagaku selama ini.

 

Tibalah saatnya…inilah saat aku harus melahirkan anak-anakku…Ooooh….sakiit…sakiit sekali kurasakan. Aku tak kuat lagi. Suara yang keluar dari pita suaraku terdengar aneh. Ya Allah….jangan cabut nyawaku…aku mohon…aku mohon ya Allah…Izinkan aku menyelamatkan nyawa anak-anakku dahulu. Izinkan aku memberikan air susu yang pertama dan terakhir untuk mereka…

 

Entah bagaimana kejadiannya, aku tak ingat. Antara sadar dan tidak, antara hidup dan mati, anak-anakku dapat kulahirkan dengan selamat. Badanku masih menggigil. Nafasku tinggal satu-satu, jantungku berdenyut dengan susah payah. Hanya kuasa Allahlah yang membuatku masih dapat bertahan hidup. Namun aku bahagia, melihat anak-anakku lahir dengan selamat. Tiga ekor anak kucing yang lucu-lucu. Merekalah sumber kekuatanku, kebahagiaanku. Demi merekalah aku mampu bertahan hidup dari kematian dan melupakan keinginanku untuk mati akibat tak tahan dengan penderitaan. Kini aku masih punya tanggung jawab lain. Aku harus menyusui mereka. Namun ya Allah..dengan badan yang hanya tinggal tulang ini, adakah air susu dapat kuberikan pada mereka. Dengan nafas megap-megap antara hidup dan mati, di ujung kematianku, aku masih berusaha sekuat tenaga memberikan air susu pada anak-anakku. Aku bertekad sampai titik darah penghabisan, sampai Allah menyudahi usiaku, untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku.

 

Satu jam…ya..satu jam…aku berhasil menyusui anak-anakku. Sangat sedikit air susu yang mereka terima, tapi sudah cukup membuat anak-anakku tertidur. Tak kuasa air mata ini menitik, tatkala aku mencium dan menjilati mereka satu persatu. Ciuman dan jilatan yang pertama sekaligus terakhir. Inilah saatnya, saat aku harus meninggalkan anak-anakku dan kehidupan dunia yang fana ini. Perjuanganku telah selesai, aku telah mengantarkan anak-anakku pada dunia mereka. Aku harus pergi sekarang…selamanya…Dengan terseok-seok dan sisa tenaga yang masih ada, aku keluar meninggalkan buah hati yang tak akan dapat kulihat pertumbuhannya. Kulihat tuanku duduk menantiku, masih dengan wajah yang penuh iba dan kesedihan. Oooh..tuanku…jangan menangis, tak kuasa aku melihat air mata yang menitik itu. Aku ingin mati dalam pelukannya…ya…keinginan terakhirku adalah mati dalam pangkuannya. Tuanku tak membiarkan aku berjalan terseok-seok. Ia mendekati dan mengangkatku…mendekapku dalam pelukannya seperti keinginanku. Betapa tenangnya…betapa bahagianya…Aku yakin, tuanku yang baik ini akan menjaga anak-anakku. Untuk yang terakhir kutatap wajahnya, ada titik air mata jatuh ke wajahku. Selamat tinggal tuanku…Allah akan membalas semua kebaikanmu. Kurapatkan wajahku semakin erat dalam pelukannya. Tuanku balik mendekapku. Hangat…tenang…sampai akhirnya…tak ada lagi yang kurasakan….kecuali setitik cahaya putih yang datang menghampiriku…..Selamat tinggal dunia…..

Kisah perjuangan sang induk kucing untuk melahirkan anaknya ini adalah kisah nyata, berdasarkan pengalaman pribadi sang tuan..