Prompt #91: Maafkan Aku Ayah

Seperti biasa..setiap akhir pekan..ayah berdiri di tepian pantai, dan seperti biasa..matanya menerawang, mengguratkan kesedihan.

Aku ikut berdiri, di belakang ayah. “Maafkan aku ayah,” Kata-kata yang tak pernah mampu kuucapkan, hanya terlantun dalam hati, setiap hari.

Ayah menoleh, membelai rambutku. Air matanya tak pernah jatuh, hanya mengambang di bola matanya, selalu begitu. Kurasakan betapa tersiksanya ia menahan kesedihan, dan berusaha tegar di hadapanku.

“Ibumu wanita yang sangat hebat, ayah bangga padanya.”

Kutatap ayah, tak mampu berkata-kata.

“Ayah tak pernah menyalahkanmu, Nak. Semua sudah menjadi takdirNya. Kau harta tak ternilai yang ditinggalkan ibumu. Demi kamu ibu mengorbankan dirinya. Ayah bangga padanya.” Dan kali ini ayah terisak, tak mampu lagi membendung kesedihan. Aku memeluk ayah..mendekapnya erat-erat. “Maafkan aku, Ayah,” ucapku dalam hati.

Senja datang, waktunya pulang. Ayah menyetir mobil dalam keheningan, sekali-sekali tangannya mengusap kepalaku. Aku hanya diam. Aku tak bisa berucap sepatah katapun. Bagaimana harus kujelaskan pada ayah, bahwa ibu tak sebaik yang ayah pikirkan, bahwa ibu bukanlah wanita yang pantas ayah banggakan.

Ayah tak pernah tahu bagaimana tabiat asli ibu. Tak pernah sedikitpun ayah mencurigai kebohongan-kebohongannya, di matanya ibu adalah wanita sempurna tiada cela. Ayah terlalu mempercayainya. Ibu bukanlah wanita yang sibuk dengan pekerjaannya, ibu sibuk dengan laki-laki lain, sibuk menyenangkan dirinya sendiri, dan pacar gelapnya. Ibu tanpa sungkan melakukan itu semua, terang-terangan di hadapanku. Ibu tak pernah takut aku akan mengadukan semua perilaku jeleknya, karena ibu tahu aku tak mampu melakukannya. Aku telah bisu sejak lahir.

Saat kita berlibur ke pantai sebulan lalu, aku tahu ibu sebenarnya ada janji dengan pacarnya. Agar ayah tak curiga, ibu memaksakan diri ikut, setelah itu ibu akan pura-pura pulang duluan karena ada rapat, begitulah kata-kata yang kudengar di telepon.

Maafkan aku ayah…ibu tidak menyelamatkanku dari gulungan ombak besar di pantai, tapi akulah yang sengaja mendorongnya ke sana. Maafkan aku ayah…

Jumlah kata: 297

Diikutsertakan dalam Monday Flash Fiction (MFF)

Prompt #89: Sebuah Perjanjian

Gambar dicomot dari mbah gugel

Gambar dicomot dari mbah gugel

Istriku sedang ada tugas ke daerah lagi dan aku akan kesepian lagi sebulan ke depan. Malang bagiku jadi lelaki rumah tangga. Sialnya, aku ini lelaki yang gampang tergoda jika tidak ada kegiatan sepanjang hari. Aku tergoda untuk membatalkan perjanjian dengan istriku. Apalagi kami berdua belum dikarunia buah hati, bertambahlah kebosananku.

Sebuah kekhilafan telah kulakukan, mengkhianati cinta suci yang kami ikrarkan dua tahun lalu. Istriku mengajukan cerai, lalu aku memohon maaf penuh penyesalan. Beruntung ia memberi maaf, dengan satu syarat (yang kuterima mentah-mentah tanpa berpikir panjang): kami bertukar posisi. Aku menjalani perannya selama ini menjadi ibu rumah tangga, dan ia menjalani peranku sebagai pencari nafkah. Sebenarnya aku tidak sungguh-sungguh mengemis maaf, apalagi menyesal. Masalahnya jika sampai bercerai, dari mana harta kan kudapat. Pekerjaan mapan dan rumah mewah yang kami tempati semua dari istriku yang kaya raya. Maka jika kini kami bertukar tempat, sesungguhnya ia hanya mengambil kembali jabatan yang diberikan padaku, dengan harapan jika aku diam di rumah, maka tertutup sudah jalanku untuk menduakannya

Aah..tapi ia salah. Istriku salah besar. Aku tidak tahan meneruskan peran ini. Namun membatalkan perjanjian, sama saja bunuh diri, aku akan kehilangan istri yang berarti kehilangan harta. Lambat laun aku mulai sadar, bukankah selama bertukar peran, sesungguhnya aku telah kehilangan istri,  tanpa kehilangan harta. Ia kerap keluar kota berminggu-minggu, meninggalkanku seorang diri, mana ia tahu kalau aku kembali menjalin hubungan dengan wanitaku. Akhirnya sambil tersenyum, ku buka phonebook di handphone dan menghubungi sebuah nomor.

Aku tertawa penuh kemenangan. Hari ini aku akan melepas kerinduan dengan wanitaku. Dasar istriku memang wanita kaya tapi bodoh. Syarat yang ia ajukan sama sekali tak menghalangi kesenanganku. Aku tetap dapat melanjutkan hubungan terlarang tanpa harus kehilangan harta.

Bel berbunyi. Dengan berdebar kubuka pintu rumah. Wanitaku tercinta, tersenyum manis sekali, sungguh ia teramat cantik. Di sampingnya..berdiri istriku dengan tatapan yang sungguh menakutkan.

*********************

Jumlah kata: 300

Dibuat untuk ikut memeriahkan Monday Flash Fiction (MFF), setelah lebih dari setahun gak pernah ikutan lagi…^_^

Ayah..oh..ayah..

“Ayahmu itu, nak.., ibu sudah nggak tahan lagi.”

“Ayah nggak pulang lagi?’

“Malam ini dan malam-malam berikutnya dia nggak akan pulang.”

“Emang ayah kerjanya apa sih, Bu? Kok sering nggak pulang?”

“Kerjanya mah cuma cuap-cuap bentar doang, tapi ngelayapnya bisa semingguan lebih, entah ke rumah perempuan mana lagi dia..huh…!”

*******

Jauh di seberang pulau, di sebuah hotel berbintang, tengah berlangsung seminar  Peranan Orang Tua Dalam Perkembangan Jiwa Anak.

“Sebagai orang tua, kita harus mendahulukan keluarga, bla…bla…bla..” Sang pembicara, seorang laki-laki berusia 40 tahunan berbicara dengan semangat dan menggebu-gebu. Kantung celananya bergetar, tanda sebuah sms masuk, berisi: Mas, ntar malam jadi ya jemput Vivi.”

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Eragon si Penyihir

Sambil menunggangi Saphira, naga kesayangannya, Eragon berteriak mengeluarkan mantra sihirnya. Pedang di tangan, ia kibas-kibaskan menahan serentetan panah yang menghadang. Dengan sihir, ia berhasil melemparkan batu-batu kerikil pada para penyerang. Akhirnya Eragon berhasil memenangkan pertempuran, ia mendarat dengan bangga bersama naganya.

“Kita berhasil..!! Kita memenangkan pertempuran..!!” Ia berteriak kegirangan.

Tiba-tiba sesosok bayangan yang berbadan besar, mendatangi Eragon. Bayangan itu semakin dekat. Wajah Eragon pias, badannya gemetar. Bayangan itu semakin mendekat. Eragon pasrah, menutup matanya.

“Denoooo…!!! Berapa kali ibu bilang, kursi bukan buat dinaik-naikiin…!! Itu lagi.., tongkat kakek kamu ambil. Hah…?? Ini apa..?? Pantes sendok ibu habis..haduuuh..”

Sebuah cubitan kuat mendarat di telinga mungilnya.

 

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Tragedi Panggung Roboh

Deno berdiri di tengah jalan sambil menangis. Ia mencari bantuan.

“Panggung roboh, kaki mamak berdarah.” Ujarnya pada penduduk yang lewat.

*******

Tung…tung…tung…pentungan dibunyikan. “Panggung roboh, ada korban…!!” begitu bunyi pengumuman yang diteriakkan. Berbondong-bondong warga menuju panggung, yang sedianya akan digunakan untuk hiburan rakyat.

Sampai di lokasi…mamak tengah meringis kesakitan. Darah mengalir deras di kakinya. Ia duduk menahan sakit di atas panggung yang masih berdiri.

“Panggungnya nggak roboh.”

“Mana yang roboh?”

Mamak menunjuk ke Deno yang sedang membereskan mainan.

“Deno lagi bikin panggung dari sisa-sisa bambu. Mamak nggak sengaja menyenggolnya, mamak jatuh. Ternyata ada paku berkarat di bambu, makanya kaki mamak berdarah.

“Ooooowh…”

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Antara Ampas Kopi dan Reuni

Aku benar-benar takut. Ada apa dengan suamiku? Sepulangnya para tamu dalam acara reuni, ia kumpulkan sisa-sisa ampas kopi dari gelas dan menuangkan ke lantai, kemudian meratakan ampas kopi tersebut. Suamiku sudah gilakah? Tapi tadi ia baik-baik saja, dan normal. Suamiku memandangku, dadaku berdegup kencang, ia menghampiriku, aku semakin takut, ia pegang tanganku, aku menjerit.

“Hei..kamu ini kenapa, Bun? Lihat sini..”

Hati-hati aku membuka mata, bersiap siaga jika suamiku melempariku dengan ampas kopi. Mungkin ia marah atau cemburu karena aku terlalu akrab dengan teman-teman sekolahku dulu, terutama laki-laki.

Aku terkejut, di atas hamparan ampas kopi, suamiku menulis kalimat: Always Love U

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Ranking Sebelas

Bu Joko membanting rapor  ke meja.

“Ranking 11 lagi…11 lagi..!”

“Mau gimana lagi,Bu, kemampuan Deno memang cuma segitu.” Pak Joko mencoba meredam kemarahan istrinya.

“Tapi dari kelas satu sampai kelas empat, masa anak kita ranking 11 melulu, mbok ya sekali-sekali masuk 10 besar.”

“Kita harus mengajarinya lebih keras.”

Tiba-tiba Bu Joko mengambil tasnya dan pergi keluar.

“Loh, Bu? Mau kemana toh?”

“Aku mau menemui kepala sekolah. Pasti ada yang nggak beres ini.”

“Ya sudah, kutemani.”

Pak dan Bu Joko segera menuju sekolah. Deno keluar dari kamar, mengambil rapor yang tadi dibanting ibunya, membaca jelas tulisan yang tertera di bagian bawah: Rangking 11 dari 11 siswa.

Diikutsertakan dalam #FF100Kata