My wedding story

Alhamdulilah…akhirnya muncul juga mood sya buat ngeblog setelah sekian lama padam. Usia pernikahan saya masih seumur jagung….uppzz..salah, lebih muda dri jagung. Kalau jagung 3 bulan, rumah tangga saya baru mau berjalan dua bulan, karenanya belum banyak kisah seputar suka duka berumah tangga yang bisa saya share di sini…

Dulu…saya begitu terheran-heran dan tak habis pikir, dengan kisah beberapa orang yang saya kenal, dimana mereka begitu berani memutuskan menikah hanya melalui perkenalan yang sangat singkat -berkisar satu hingga tiga bulan- dan dengan frekuensi pertemuan yang sangat sedikit, sekitar 3 atau 4 kali pertemuan. Jika saya tanya, mereka akan menjawab, ya seperti itulah kalau sudah jodoh, merasakan kemantapan hati tanpa banyak pertimbangan atau embel-embel.  Lalu saya berpikir, bisakah saya seperti mereka, hanya ketemu beberapa kali dengan perkenalan yang sangat singkat, lalu memutuskan untuk menerima ajakan menikah.

Hmm…sungguh tak pernah menyangka saya akan menjalani proses seperti yang dialami beberapa teman. Dalam benak saya, saya akan menikah dengan seseorang yang telah saya kenal lebih dahulu, begitu pun seseorang itu, kemudian kami saling menyukai, dan akhirnya menikah. Kenyataannya…saya bertemu dengan suami sebelum menikah justru hanya dua kali. Woow…sekarang giliran banyak orang yang nanya ke saya..kok bisa sih..kok berani sih..Pertama ketemu saat datang melamar tanggal 4 februari, dan kedua kalinya ya saat walimahan, tanggal 23 maret. Kenalnya kapan..?? kenalan awal via bbm, tanggal 2 desember.  Kami berkenalan tidak secara kebetulan, seorang saudara sepupu di Palembang yang berinisiatif mempertemukan kami berdua di bbm. Kalau kata suami, tanggal 5 desember adalah tanggal di mana ia memberanikan diri mengajak saya menikah setelah kenal selama tiga hari, tapi menurut saya sehari setelah kenalan atau besok malamnya udah ngomong ngajakin nikah..ato mungkin saya aja kali ya yang kegeeran..hehe…

Lalu gimana bisa saya begitu cepat memutuskan untuk menerima ajakan menikah… Tentu saja bukan tanpa alasan atau hanya karena sudah dikejar usia yang tak muda lagi…(hadeeeh…berat euuy nulisnya..xixixi..), sama seperti halnya suami yang begitu cepat memutuskan untuk menjadikan saya sebagai istrinya, juga bukan tanpa alasan. Namun kalau dari pihak suami…salah satu alasan yang paling kuat adalah karena mendapat dukungan penuh dan restu 100 % dari kedua orangtuanya, mengingat bahwa ridho Allah ada pada ridho orang tua. Dan saya sendiri..salah satu alasannya adalah ya karena (calon) suami saat itu merasa yakin dan mantap banget ama saya…jadi kebawa mantap juga… 😀

Namun ada hal yang unik di balik proses walimahan saya ini, ternyata…bertahun-tahun yang lalu…saat saya masih kuliah, tanpa disadari bahwa saya dan suami sebenarnya pernah bertemu, saat saya dan keluarga bertamu ke rumah keluarganya (keluarga suami saya memang bukan orang asing, artinya antara keluarga memang sudah saling mengenal…kebetulan masih ada hubungan keluarga dari pihak ibu mertua, dan itu juga yang membuat saya tidak begitu canggung dengan ibu mertua, di mata saya..sudah seperti menggantikan posisi almarhumah ibunda saya). Saya ingat ketika itu melihat ada beberapa remaja kakak adik tengah berkumpul di ruang keluarga..dan salah satu di antaranya…ternyata…tanpa pernah terpikirkan sedikitpun, bahwa kelak…bertahun-tahun kemudian…akan menjadi pendamping hidup saya. Juga pernah..ketika saya dan kakak saya mendatangi salah satu kios di stasiun kereta di Tj. Karang, untuk menemui ibunya suami..namun kami tak bertemu, saya dan kakak hanya bertemu dengan seorang laki-laki yang tengah menunggui kios, laki-laki itu ternyata di masa mendatang menjadi suami saya. Masya Allah..di sinilah kuasa Allah..misteri yang tak pernah dapat kita tebak, tentang jodoh yang telah dipersiapkan Allah..

Saya sangat bersyukur..di tengah-tengah penantian panjang saya..akhirnya Allah menjawab doa-doa saya, membuktikan bahwa janjinya adalah benar, jodoh manusia memang telah dipersiapkan, tinggal bagaimana kesabaran dan ikhtiar panjang melalui lantunan doa yang tiada henti dalam menanti janji Allah tersebut.

Semoga Allah meridhoi rumah tangga saya, ibarat kapal yang tengah berlayar, rumah tangga saya baru saja memulai pelayarannya…entah rintangan apa yang akan kami hadapi di tengah laut nanti, saya hanya terus-menerus berdoa..agar Allah senantiasa meridhoi kami berdua..membantu saya dan suami untuk selalu kuat dalam mengahadapi masalah apapun…membantu kami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah…aamiin ya Robbal’alamiin…

Untuk yang sedang dalam masa penantian..sabar dan terus berdoa, jangan pernah berputus asa, karena janji Allah benar adanya…semangaaaat… 😀

 

 

Iklan

Beruntung Saya Tak Pernah Mengetahuinya

Saya punya kebiasaan yang sama sekali tidak bisa ditinggal saat menonton drama Korea. Yaitu saya pasti menonton seri pertama, dan kemudian langsung loncat ke seri terakhir. Kalau ternyata akhir drama tersebut happy ending, maka baru akan saya lanjut seri kedua dan seterusnya secara berurut. Karena saya pikir, walaupun di tengah-tengah episode ada kisah yang begitu mengharu biru, menyedihkan, menjengkelkan, dan semua kisah yang mengaduk-aduk emosi saya, tapi saya tahu pasti nantinya tokoh utama tetap akan bahagia bersama pasangannya.

Berbeda ketika ternyata di episode terakhir kisahnya ditutup dengan sad ending. Sad ending untuk definisi saya adalah tokoh utama dan pasangannya “gak jadian”, atau mati bersama-sama. Kalau seperti itu biasanya saya walaupun tetap melanjutkan episode kedua, namun mengikutinya tidak dengan sepenuh hati, malas dan tak bersemangat, atau bahkan akhirnya tidak jadi menonton drama tersebut. Saya memang termasuk orang yang gampang terbawa emosi saat membaca atau menonton kisah-kisah sedih, dengan kata lain yaa…cengeng… 😀

Film Walk To Remember, adalah film yang sangat menguras air mata. Terus terang saya belum menontonnya. Saya sangat terobsesi untuk menonton film ini, namun ketika murid saya menceritakan jalan cerita film tersebut, dan memberitahu bahwa tokoh utama wanitanya (Mandy Moore) akhirnya meninggal, hilang sudah keinginan saya untuk menontonnya. Saya yakin nggak akan kuat…pasti mewek sepanjang durasi, dan itu cukup membuat saya menderita…

Beruntung hingga detik ini saya tidak pernah tahu siapa jodoh saya, bagaimana masa depan saya, bagaimana kisah akhir hidup saya. Coba kalau saya tahu, seperti halnya drama-drama yang saya tonton, dan ternyata saya tidak menyukainya, bagaimana saya akan menjalani hari-hari saya, sementara saya tahu nanti saya akan begini..begitu..dan seterusnya.Yang bisa saya lakukan sekarang hanya berdoa, dan berusaha semaksimal mungkin agar kehidupan mendatang sesuai dengan apa yang saya ingin dan harapkan.

Inilah mengapa Allah tetap menjadikan rahasia tentang  rezeki, jodoh, dan maut, agar kita selalu berusaha, dan dekat denganNya. Ketidaktahuan tentang hal-hal tersebutlah yang membuat kita masih tetap bisa survive dengan segala keadaan yang menimpa. Ingin mendapat rezeki yang banyak, maka caranya dengan bekerja keras. Mau dapat jodoh sholeh/sholehah, ya perbaiki diri agar pantas berpasangan dengan laki-laki sholeh atau wanita sholehah. Mau meninggal dalam keadaan khusnul khotimah, perbaiki dan perbanyak amal, berusaha untuk tidak berbuat dosa.

Wallahu a’lam bishawab