Prompt #89: Sebuah Perjanjian

Gambar dicomot dari mbah gugel

Gambar dicomot dari mbah gugel

Istriku sedang ada tugas ke daerah lagi dan aku akan kesepian lagi sebulan ke depan. Malang bagiku jadi lelaki rumah tangga. Sialnya, aku ini lelaki yang gampang tergoda jika tidak ada kegiatan sepanjang hari. Aku tergoda untuk membatalkan perjanjian dengan istriku. Apalagi kami berdua belum dikarunia buah hati, bertambahlah kebosananku.

Sebuah kekhilafan telah kulakukan, mengkhianati cinta suci yang kami ikrarkan dua tahun lalu. Istriku mengajukan cerai, lalu aku memohon maaf penuh penyesalan. Beruntung ia memberi maaf, dengan satu syarat (yang kuterima mentah-mentah tanpa berpikir panjang): kami bertukar posisi. Aku menjalani perannya selama ini menjadi ibu rumah tangga, dan ia menjalani peranku sebagai pencari nafkah. Sebenarnya aku tidak sungguh-sungguh mengemis maaf, apalagi menyesal. Masalahnya jika sampai bercerai, dari mana harta kan kudapat. Pekerjaan mapan dan rumah mewah yang kami tempati semua dari istriku yang kaya raya. Maka jika kini kami bertukar tempat, sesungguhnya ia hanya mengambil kembali jabatan yang diberikan padaku, dengan harapan jika aku diam di rumah, maka tertutup sudah jalanku untuk menduakannya

Aah..tapi ia salah. Istriku salah besar. Aku tidak tahan meneruskan peran ini. Namun membatalkan perjanjian, sama saja bunuh diri, aku akan kehilangan istri yang berarti kehilangan harta. Lambat laun aku mulai sadar, bukankah selama bertukar peran, sesungguhnya aku telah kehilangan istri, ย tanpa kehilangan harta. Ia kerap keluar kota berminggu-minggu, meninggalkanku seorang diri, mana ia tahu kalau aku kembali menjalin hubungan dengan wanitaku. Akhirnya sambil tersenyum, ku buka phonebook di handphone dan menghubungi sebuah nomor.

Aku tertawa penuh kemenangan. Hari ini aku akan melepas kerinduan dengan wanitaku. Dasar istriku memang wanita kaya tapi bodoh. Syarat yang ia ajukan sama sekali tak menghalangi kesenanganku. Aku tetap dapat melanjutkan hubungan terlarang tanpa harus kehilangan harta.

Bel berbunyi. Dengan berdebar kubuka pintu rumah. Wanitaku tercinta, tersenyum manis sekali, sungguh ia teramat cantik. Di sampingnya..berdiri istriku dengan tatapan yang sungguh menakutkan.

*********************

Jumlah kata: 300

Dibuat untuk ikut memeriahkan Monday Flash Fiction (MFF), setelah lebih dari setahun gak pernah ikutan lagi…^_^

Iklan

9 thoughts on “Prompt #89: Sebuah Perjanjian

  1. Yup… sebaris kalimat tambahan bisa jadi pamungkas yang mantap. Misalnya : “Hai, Sayang,” kata istriku. “Kenapa kau mengundang Shinta, pegawaiku, ke rumah kita?” | Atau, “Ternyata kau pacaran dengan pegawaiku,ya, Sayang?”
    Dan jangan lupa, ekspresi Shinta (katakanlah begitu namanya) ya harus sesuai, Cantik, tapi terlihat ketakutan. Masak dia senyam-senyum di depan istri selingkuhannya? Minta dipotong jadi tiga bagian? ๐Ÿ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s