Dua Kepala Dua Isi

Beberapa waktu lalu saya pernah membuat status di FB yang isinya…”Menikah itu adl belajar berkompromi, istri berkompromi dgn selera suami, suami berkompromi dgn selera istri, ini baru urusan toilet dlm hal desain dan pemilihan warna, blm utk ruangan2 lainnya (tapi seenggaknya utk dapur alhamdulillah udh klop satu selera..^_^), dan blm utk masalah lain yg lbh besar..suami istri hrs saling kompromi dgn selera dan pendapat yg berbeda-beda…”

Status itu emang terkait dengan kejadian yang saya alami baru-baru ini bersama suami. Alhamdulillah atas seizin Allah, dan setelah kurang lebih 2-3 bulan tiap ada kesempatan, berdua touring keliling Lampung mencari rumah yang sesuai dengan budget, mulai dari daerah yang jauh di pelosok sampai perumahan-perumahan swasta di perkotaan, akhirnya saya dan suami memutuskan mengambil rumah mungil di perumahan milik pemerintah di daerah Natar, sekitar setengah jam dari kota Bandar Lampung (alias mo beli yang di tengah kota budget gak mendukung :D), Rumah sederhana tipe 36 dengan luas tanah 84 meter persegi. Hanya ada 5 ruangan: ruang tamu, ruang keluarga, dua kamar tidur, dan satu WC. Di sekeliling rumah kami bangun pondasi yang lebih kuat, menopang pondasi rumah yang seadanya. Kelebihan tanah di belakang 1,8 m x 7 m kami habiskan untuk membangun dapur dan kamar mandi. Kamar mandi yang letaknya di ruang keluarga dibongkar habis agar ruang keluarga terasa lebih luas. Sementara kelebihan tanah di samping seluas 1,8 m x 12 m dihabiskan juga, tapi belum tau mau digunakan untuk ruangan apa.

Nah.. masalahnya saya dan suami berbeda selera untuk urusan warna dan design keramik toilet. Dari awal sebenarnya sih udah ada kesepakatan (lebih tepatnya sih permintaan saya..hehe..), untuk toilet dan dapur, semua harus saya yang pilih warna dan motif keramik. Untuk yang lain terserah..saya ngikut aja. Walaupun dlm prakteknya ternyata gak mudah nerapinnya. Saya tetap protes ketika ada yang gak sesuai dengan kehendak saya di luar urusan warna dan motif keramik, diantaranya model shower pilihan suami, saya kurang berkenan. Begitu pula suami, yang cenderung maunya kamar mandi bernuansa putih, saya justru memilih warna beige. Kami agak sama-sama gimana gitu dengan pilihan masing-masing. Ada sedikit rasa menyesal dakam hati saya…kenapa gak ngikutin maunya suami, tapi di sisi lain hati saya berkata: kan udah kesepakatan semuanya saya yang pilih. Duuh…klo mau egois2an bisa ribut gede nih untuk urusan ginian. Ini baru masalah kamar mandi dan dapur. Kami belum melangkah untuk urusan ruangan-ruangan lainnya.

Namun lambat laun…saya mulai menerima, ya gak apa-apalah model showernya begitu, toh yang keluar juga sama aja, masih air air juga :D, suami pun lambat laun mencoba ikhlas dengan pilihan warna saya..xixixixi. Bahkan kemarin akhirnya mengakui…ternyata bagus juga ya warna beige untuk di kamar mandi….Yesssss….!!!! :D. Seorang tetangga yang juga lagi ngebangun rumahnya, bahkan sampe memfoto toilet kami karena mau ngikutin pilihan warna dan model keramik. Alhamdulillah klo bisa memberi inspirasi untuk warga lain.

Untuk urusan dapur, alhamdulillah gak ada masalah. Berjalan lancar dan mulus. Belajar dari pengalaman toilet, ketika memilih keramik, saya minta pendapat suami, ketika ia tak suka dengan pilihan saya, saya gak maksa, begitu pula sebaliknya, suami ngalah ketika saya gak suka dengan pilihannya, sampai akhirnya kami ketemu dengan pilihan warna dan motif keramik yang sama-sama kami suka, alhamdulillah…

Belajar berkompromi dimulai dari hal-hal kecil. Karena setelah ini, tentu akan banyak masalah-masalah lain yang lebih besar dan lebih urgen di mana kami berdua harus saling menerima pendapat masing-masing, sepanjang tidak menyimpang dari koridor agama tentunya. Kalau punya anak, mungkin nanti untuk urusan pemilihan sekolah, pola didik, dsb. Dua kepala dengan dua isi yang berbeda, namun akan hidup terus berdampingan satu sama lain, (sampai ajal memisahkan insya Allah..aamiin..), maka tak ada kata lain selain saling berkompromi, tak bisa saling memaksakan kehendak. Duuuuh…saya kayak yg udah pengalaman berumah tangga aja yak :D. Sebenarnya ini nasehat untuk diri saya sendiri, semoga gak sulit dalam prakteknya, karena wanita emang cenderung egois, suka memaksakan kehendak…

Note:
Perumahan yang insya Allah akan kami tempati bulan januri thn depan, emang perumahan baru. Warga yang menempati belum banyak, bahkan sampai saat ini pembangunan rumah masih berlangsung. Di blok yang saya tempati, blok M, rata-rata pemilik rumah tengah membangun dan merenov, ya tau sendiri lah gimana kondisi rumah KPR BTN milik pemerintah, kurang memadai kalau langsung ditempati. Insya Allah awal tahun selesai renovasi rumah, banyak warga yang sudah mulai menempati. Semoga berkah, saya dan suami betah dan merasa nyaman, dan semoga setelah rumah, Allah memberi rezeki anak pada saya dan suami, aamiin…

Iklan

14 thoughts on “Dua Kepala Dua Isi

    • Iya mba yana…nyicil dri skrg aja gpp, seenggaknya klo udh nikah gak ribet nyari rumah, hitung2 mengurangi beban suami. Tetangga yg sya ceritain moto toilet, itu juga masih sendiri, tapi udh ngambil rumah dan lgi merenov…:)

  1. Aamiin…

    Seiring waktu, semakin bisa menerima perbedaan dengan santai… tp memang kelapangan hati itu perlu sekali untuk menerim setiap perbedaan, dan proses ini berlangsung terus selama, semoga rukun dan bahagia selalu yaaa…

    Aaah kebayang bahagianya saat pertama kali pindah rumahnya πŸ™‚

    Nanti makin rame diskusinya pas bagian mengisi ruangannya πŸ™‚

    • Aamiin..nuhun teteh atas doanya….:)

      Iya nih…pasti utk ruangan2 lain bakal lbh banyak rame2nya, ini aja udh mulai beda utk warna cat rumah, nempatin meja makan di bagian mana…tpi ya mgkn ini dinamikanya ya..dinikmati aja, sekalian belajar utk saling berbesar hati…hehe… Semuanya proses ya teh wie.. πŸ™‚

      • Khan jadi rameee rumahnya hehe
        Nanti juga lama-lama malahan saling mengalah atau ambil jalan tengah πŸ™‚
        Kalau satu pengen putih, satu pengen merah, ambil jalan tengah, campur warnanya jadi Pink mudaa..dan yg pasti langsung diprotes sama suamiii hahhaa eeeeh ini mah teteeh…kangmas ngga suka sama warna Pink πŸ˜€

        Aah pasangan muda baru menikah itu indaaah…dan akan lebih indah seiring waktu berjalan πŸ™‚

        Betul pisan, dinikmati saja prosesnya, ya manyun-manyun sedikit mah ngga apa-apa, nanti si akang pasti mengalah demi istri tercintanya hehee

      • iya teh…yg paling pas itu ambil jalan tengah, seperti urusan toilet, akhirnya yg serba putih catnya aja…jadi selera dua2nya terpenuhi…hehehe…

        “Aah pasangan muda baru menikah itu indaaah…dan akan lebih indah seiring waktu berjalan.—-> teteh mah udah pengalaman ya..hrs banyak belajar nih… biar bisa ikut ngerasain juga keindahan yang terus bertambah. Jadi inget kata-katanya mba ifa avianty, penganten baru itu justru riweh di 6 bln pertama….kayaknya iya juga sih..hahaha…

      • katanya ada yg bilang, usia 5 thn pernikahan itu menentukan warna rumah tangga kedepannya..

        riweuh ya karena “baru kenalan”..kebayang khan tiba2 ada sosok “asing” yang berjalan bersama dr melek sampai merem dan sampai melek lagi…:)

      • Wah…saya baru mau masuk 10 bulan, msh belum jelas warna rumah tangganya…tapi semoga sih kelak warnanya penuh kebaikan dan keberkahan dri Allah, aamiin..

        Iya teh..gimana gak riweh, emang kenalnya juga baru dua bln, itu pun jarak jauh, gak pernah liat wajahnya langsung, sekali liat pas cuma lamaran ama nikah aja..hahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s