Flash Fiction: Dalam Sebuah Kamar

Lusy membetulkan letak kacamatanya. Entah gagangnya yang sudah mulai longgar, atau hidungnya yang demikian pesek hingga kacamata berkuat lensa minus empat dioptri itu kerap melorot turun. Ia mendengus kesal. Huh..kenapa juga harus pindah ke kontrakan kumuh seperti ini. Kenapa ayahnya harus di PHK yang membuat mereka terpaksa merelakan rumah satu-satunya dijual. Kenapa ibunya harus begitu cepat mendahuluinya ke surga. Kenapa…kenapa…belum sempat ia berpikir lagi. wanita setengah baya dengan tumpul gempal menariknya masuk ke dalam kamar.

“Ini kamarmu. Bersihkan sendiri sana, saya dan ayahmu banyak kerjaan. Ruangan lain harus dibersihkan juga, bukan cuma ngurusin kamu aja.”

Wanita bertubuh gempal itu meninggalkan Lusy sambil menggandeng mesra ayahnya. Aroma keringat dari tubuh si wanita bercampur dengan bau pengap dan lembab dari dalam kamar, membuat Lusy terbatuk-batuk. Lusy hanya memandang marah pada ayahnya yang juga menyambut gandengan mesra si wanita gempal, wanita ketiga yang dipacari ayahnya sejak kematian ibunya setahun lalu, dan sebentar lagi akan menjadi ibu tirinya.

*********

Kamar yang sangat kumuh. Lemari kayu yang sudah rusak, tehel keramik yang lepas di mana-mana, menimbulkan debu dan pasir di seluruh lantai. Sambil kembali membetulkan letak kaca matanya, Lusy yang baru berusia 15 tahun itu memandangi kamar dengan kesal. Ia sempat mendengar suara cekikikan ayah dan calon ibutirinya di ruang tengah. Tiba-tiba….Lusy berteriak..

“Aaaaaaaaah…Ayaaaaaah…Ayaaaah….”

Secepat kilat, pasangan usia senja yang tengah asyik bermesraan itu membuka pintu dan masuk.

“Lusy..!!! ada apa?” Ayahnya bertanya panik.

Lusy tidak menjawab, ia terus berteriak-teriak dengan matanya membelalak. Ia seperti ketakutan karena melihat sesuatu. Tiba-tiba ia menoleh pada wanita gempal.

“Pergi..!!! Pergi..!!! Pergi…!!!” Teriaknya. Ia lempar kacamatanya pada wanita gempal, kemudian mendatangi ayahnya dan memeluknya erat-erat.

“Ayah..aku takut. Ada banyak orang di sini..banyak sekali, Yah. Itu..itu..itu juga” Tangan Lusy menunjuk ke segala penjuru, terakhir menunjuk pada calon ibu tirinya.

“Kamar ini menakutkan, aku nggak mau di sini, nggak mau ada dia juga.”

“Marni…, bagaimana ini?” Hanya itu yang terucap dari mulut sang ayah.

“Aku sudah nggak tahan lagi. Sudah nggak kuat. Ini bukan yang pertama si anak ini meracau-racau. Aku nggak mau hidup dengan anak yang hobinya kesurupan!”

Tanpa berpikir panjang, Marni meninggalkan ayah dan anak dalam kamar pengap tersebut. Sang ayah diam saja, ia tahu persis bahwa ini hanya akal-akalan anaknya saja untuk kembali menggagalkan rencana pernikahannya.

“Lusy, ayah mengalah, ayah tak akan menikah lagi dengan siapapun.”

Masih dalam pelukan ayahnya, Lusy tersenyum penuh kemenangan. Tiba-tiba bibirnya menyeringai, mengerikan.

“Iya, ayah.” Sebuah suara wanita tak dikenal keluar dari mulut mungil Lusy.

Iklan

29 thoughts on “Flash Fiction: Dalam Sebuah Kamar

  1. ternyata kesurupan beneran.

    kirain MFF idol itu buat para writer aja. bukan buat penggembiar. soalnya kan ada klasemen dan siapa yang tersingkir. makanya nggak ikut2an πŸ˜€

  2. awalnya agak mengernyit pas baca lusy melempar kacamatanya, takut kok yg dilempar kacamata.. malah ga bisa liat dong.
    tp setelah tau dia kerasukan jd ngeh,, bener jg ya, hantu yg ngerasukin lusy kn ga butuh kacamata.
    *jd inget peter parker, pas udah kece jd spiderman, ga butuh lg tuh kacamata. wkwkwk~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s