Prompt #29: 27 MARET

Lima tahun yang lalu toko buku ini adalah toko buku yang paling ramai di kotaku. Buku-bukunya lengkap, mulai dari penulis abal-abal hingga penulis terkenal. Buku-buku best seller dalam negeri maupun luar negeri kerap memenuhi rak-rak yang tertata rapi. Aku dulu sangat rajin mengunjungi toko buku ini, entah sekedar membaca atau membeli beberapa jenis buku yang kusuka. Namun itu lima tahun lalu, sebelum aku meninggalkan kota kelahiranku tercinta. Sejak kematian suamiku akibat sakit yang dideritanya, aku memutuskan kembali ke rumah orang tua. Dan untuk sedikit mengurangi kesepian, aku kembali mengunjungi toko buku yang jaraknya hanya beberapa kilometer saja dari kediaman orang tua.

Tak ada yang berubah. Semua tetap sama. Baik tata letak maupun dekorasi ruangan. Ajaib, saat berada di toko buku aku merasa seperti berada tepat lima tahun lalu. Yang membedakan hanyalah bahwa toko buku ini sekarang sepi pengunjung, dan wajah-wajah letih para karyawannya.

Aku penasaran, apa yang membuat toko buku ini menjadi sepi. Padahal buku-bukunya masih tetap lengkap dan beraneka ragam. Harga-harganya pun dapat kupastikan lebih murah dibanding toko buku lainnya. Aku memandang berkeliling, mencoba menerka-nerka dimana letak ketidaknyamanan orang untuk mendatangi toko buku ini. Beberapa pengunjung yang datang tampak tak berselera melihat-lihat buku, bahkan mereka hanya diam tanpa ekspresi. Entah kenapa aku bergidik melihatnya. Tiba-tiba aku tersadar, ada yang aneh dan janggal. Di langit-langit toko, yang biasanya digantung tulisan tema buku untuk mempermudah pencarian, kini berganti dengan tulisan tanggal 27 MARET. Berderet-deret tulisan tanggal tersebut memenuhi langit-langit toko. Aku tidak menyadarinya, karena aku memang tidak perlu melihat penanda tema buku tersebut. Aku sudah sangat hapal di mana letak novel,  ensiklopedia, agama, sastra, hobby, dan sebagainya.

Seorang karyawan toko yang tengah berdiri mengawasi, kuhampiri.

“Mas, maaf mau nanya, itu banyak digantung tulisan tanggal 27 Maret, maksudnya apa ya?”

Karyawan berwajah masam itu memandangku tanpa ekspresi, sama seperti para pengunjung. Wajah pucatnya membuatku takut. Lagi-lagi aku bergidik.

“Jadi mbak belum tahu?” Suaranya pun datar dan berat, tanpa intonasi.

Aku menggeleng cepat.

“Nanti mbak juga tahu.” Kemudian karyawan tersebut meninggalkanku begitu saja. Aku mendengus. Huhhh…pantas saja jadi sepi, karyawan penjaga tokonya nggak ramah begini.

Suasana aneh dan mencekam tiba-tiba kurasakan. Aku kembali menuju rak buku, mencoba mengabaikan perubahan suasana. Kali ini aku bermaksud membeli sebuah novel dan langsung pulang. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa tidak betah dan nyaman berada di sini. Tepat ketika berjalan menuju rak buku-buku fiksi. Mataku menangkap sebuah buku yang berjudul 27 MARET. Tertulis dengan sangat besar memenuhi sampul buku, tanpa ada background gambar sedikitpun. Seperti biasa, aku langsung melihat sinopsis di bagian belakang. Ditulis oleh seorang penulis yang belum kukenal sama sekali.

“Buku ini dibuat dalam rangka memperingati kematian bapak  Didik Pangestu yang wafat pada tanggal 27 Maret akibat bunuh diri. Kebakaran besar yang menimpa toko bukunya dan menewaskan sejumlah karyawan dan pengunjung pada tanggal 27 Maret, telah mengakibatkan beliau kehilangan mata pencaharian, yang berujung pada kematiannya sendiri akibat bunuh diri. Toko buku itu sendiri kini telah rata dengan tanah, dan hingga kini belum ada investor yang berani membeli tanah tersebut untuk dibangun kembali mengingat riwayat kebakaran dan kematian yang mengerikan.”

Aku tercekat. Kaki dan seluruh badanku gemetar. Keringat dingin mulai membasahi seluruh wajah dan tubuh. Bulu kudukku berdiri, bapak Didik Pangestu adalah pemilik toko buku yang saat ini aku tengah berada di dalamnya.

483 kata

Iklan

32 thoughts on “Prompt #29: 27 MARET

    • iya mba..biar klo ada yg berkunjung bisa terhibur liat emot lucunya 😀

      di toko buku hantu, bukan hanya diskon…gratiss..tiss..tiss..hehe

      makasih ya mba udah berkunjung, udh di folbek juga..salam kenal..:)

  1. Tadinya mau nulis tentang toko buku hantu buat prompt ini, untung enggak jadi. Nanti jadi sama hihihi…
    Tinggal sedikit lagi Mbak kesan horornya mesti dipertajam. Misalnya pegawainya bermuka datar, berwajah pucat, dan kalau ngomong suaranya seperti dari tempat jauh 😀

    • gpp tulis aja mba..kan cara berceritanya beda banget pasti..

      iya..kesannya horornya masih kurang, kayaknya mau diedit lagi ntar..paling ntar mlm pas di rumah.

      Makasih atas masukannya mba..dan makasih jg udh berkunjung..salam kenal..:)

  2. Kalo toko bukunya udah “almarhum” kok koleksinya masih lengkap? Dalam rentang 5 tahun pasti banyak sekali buku terbitan yang baru. Apakah tokoh ‘aku’ tak menyadari? Lalu -aku jadi mikir lagi neh- kok ada buku baru yang katanya dibikin oleh orang lain bisa nampang di dalam toko hantu? 🙂

    btw, kita ambil tema yang sama loh. Hantu. Hehehe.

    • kan toko bukunya toko buku hantu, jadi koleksinya yg terakhir sbelum kebakaran 5 tahun lalu. Nah..klo toko “aku’nya gak menyadari..itu karena saya sendiri klo ke toko buku gak pernah ngeh ama buku, ini buku baru atau lama..terbitan kapan..pokoke baca dan beli aja, jadinya emang kebawa juga deh dalam bercerita..hehe..

      Nah..itu kayaknya yg gak masuk akal..gimana bisa ada buku baru di toko buku hantu, sy juga bingung,haha..Waah..jeli ya mas riga..hehe..Makasih mas..:)

      Meluncur aaah..pasti jauh lebih menarik nih 😀

    • bukan mba..dia gak nyadar, toko yg dia masuki yg dulu sering dia datangi udah jadi toko buku hantu. Dlm kenyataannya itu hanya tanah lapang biasa..

      Makasih udh berkunjung..salam kenal..^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s