Pengalaman Mengerikan Tak Terlupakan

Image

Halaman Depan Rumah

Beginilah kondisi jalanan depan rumah saya jika hujan turun begitu lebat. Banjir setinggi kurang lebih 30 cm ini merupakan pemandangan sehari-hari yang tak aneh. Foto ini saya ambil hari jumat lalu dari depan rumah saat hujan turun dengan derasnya, sampai akhirnya saya membatalkan agenda karena tak dapat keluar rumah. Namun untungnya banjir seperti ini hanya numpang lewat, tidak pernah sampai masuk rumah (dan semoga tak akan ada kejadian sampai masuk rumah, aamiin..), karena di ujung sana ada kali yang cukup besar sebagai penampungnya. Kali itulah sebagai penyelamat daerah sekitar rumah saya dari banjir yang masuk ke dalam rumah. Sementara di beberapa blok lain, banjir bisa sampai masuk ke dalam rumah warga. Daerah blok saya termasuk beruntung.

Dua hari berturut-turut Bogor mengalami hujan yang sangat deras. Bukan Bogor namanya kalau tidak ada hujan yang turun deras dengan tiba-tiba. Kalau kata orang sih..ciri khas orang Bogor itu pasti di tasnya ada payung. Yaa..itu benar, karena sesuai dengan namanya, kota hujan, Bogor itu emang hujan melulu kerjaannya. Jadi payung emang harus selalu tersedia setiap saat.

Karena itu pula,untuk pengguna kendaraan umum seperti saya yang namanya basah kuyup karena kehujanan bukan hal aneh. Terlalu sering saya mengalaminya. Namun hari sabtu kemarin saya mengalami basah kuyup kehujanan dengan agak berbeda, dan sepertinya baru kali ini saya mengalaminya. Saya kedinginan dengan sangat menggigil, sampai tulang punggung saya sakit sekali, belum pernah saya merasakan hal begitu, bahkan saya sampai berpikir..beginikah rasanya orang yang mau mati karena kedinginan (lebay gak yaaa..??? :D)Tapi setelah saya pikir-pikir, sepertinya itu karena kejadian saya kehujanan adalah pada malam hari.

Berawal dari saya yang pulang selepas maghrib. Kebetulan pada saat itu kantor sudah sepi, tinggal saya berdua dengan seorang siswi. Kebeneran..murid saya ini kemana-mana bawa motor, nebeng dong jadinya (kalah nih gurunya :D). Tanpa diduga hujan turun dan langsung deras. Saya pikir daripada kehujanan di motor, lebih baik saya turun. Saya bisa pakai payung dan jaket, yang saya begitu yakin ada di tas, dan tinggal nunggu bis aja sambil payungan. Akhirnya saya minta turun aja. Pas ketika motor murid saya melaju, ya Allah ya Robbi..baru ingat kalau saya nggak bawa payung, gak bawa jaket. Duuuh…beneran asli udah mau nangis rasanya. Hujan turun dengan semakin deras. Saya bingung..saya basah kuyup. Dalam keadaan putus asa, saya menoleh ke belakang, ternyata di belakang ada beberapa warung kecil, dimana sudah banyak pula pengendara motor yang berteduh di sana. Seseorang dengan baik hati memberi tempatnya untuk saya berteduh, dan orang tersebut minggir ke tempat lain. Itulah sekali-sekalinya saya begitu menyesal..kenapa bisa ketinggalan..kenapa bisa..kenapa bisa…

Ketika hujan sudah agak reda, saya ke depan jalan, menunggu bis. Tapi akhirnya saya memutuskan naik angkot saja ke Warung Jambu, di sana tempat bis-bis ke arah Parung biasanya ngetem. Tepat sampai depan halte bis, hujan kembali turun deras, tapi saya harus turun dan melewati hujan, karena bis Pusaka sudah menunggu di depan. baju yang sedikit berkurang basahnya, kembali basah kuyup. Saya mulai kedinginan.

Di bis saya tertidur. Kedinginan saya mulai berkurang. Tapi suasana gelap sekali. Ketika terbangun, saya tidak tahu sudah sampai mana. Saya hanya sempat melihat ada Bank BRI, jadi saya pikir sudah sampai Parung. Jadilah saya berjalan ke arah pintu. Ooh..rupanya baru sampai Telaga Kahuripan.
“Mau turun di mana, Neng?” Kenek bis yang seorang bapak tua bertanya.
“Parung, tapi saya salah liat, belum nyampe taunya.”
“Iya..Parung jauh keneh. Duduk dulu aja.”
Saya kembali duduk, tapi saya bukan duduk di tempat semula yang agak ke dalam, melainkan di bangku yang dekat pintu. Angin malam di tambah cuaca dingin karena hujan belum berhenti mulai menerpa badan saya. Saat itulah dengan tiba-tiba saya merasakan dingin yang teramat sangat. Dingin yang belum pernah saya rasakan. Saya mencoba tak ambil peduli, dengan tetap membalas bbm teman yang kebetulan masuk. Tapi ternyata tak bisa, badan saya menggigil, pulang tunggung mulai terasa sakit sekali. Beberapa menit saya mengalami hal tersebut. Entah kenapa, dalam kondisi itu, saya justru teringat film Titanic, membayangkan mungkin seperti inilah rasanya korban-korban dari peristiwa Titanic yang meninggal karena kedinginan. Saya menutup mata..dan mulai berdoa..ya Allah, mohon kuatkan hamba. Saat itu saya takut sekali..takut saya sampai pingsan, bahkan mungkin lebih parah dari itu. Tapi alhamdulillah…akhirnya suhu tubuh saya mulai stabil. Saya tidak lagi menggigil, punggung saya tidak lagi sakit, meskipun masih merasa kedinginan. Sepertinya ini pengalaman pertama saya, dan beryukur Allah masih melindungi saya.

Iklan

30 thoughts on “Pengalaman Mengerikan Tak Terlupakan

  1. parahnya kalo bogor udah hujan deras, jakarta bakal kebanjiran. berarti kalo tinggal di bogor mesti siap2in jas hujan ya. bogor mungkin mirip daerah tinggi di bawah gunung rinjani di sini, tiap minggu sesekali hujan deras

    • oh iya.harus itu, siap2 jas hujan dan payung. Belum petirnya juga..kabarnya petir di bogor dan cibinong adalah yg terkuat di dunia..kabarnya sih…tapi petirnya emang maha dahsyat πŸ˜€
      oowh..emang tinggal di mana mas..??

  2. syukur alhamdulillah…. tetep sehat dan bisa nulis di blog.
    lain kali jangan sampe lupa bawa payung dan jaket

    saya sendiri, kalau pulang kantor hujan sering hujan2an di motor tanpa jas hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s