Prompt #24: Akibat Kepedean

Prompt 24

Aku seorang wanita yang sangat sibuk. Saking sibuknya, aku jadi terkesan kuper, kudet, nggak gaul, nggak peduli ama lingkungan sekitar. Tapi aku juga tak mau di bilang wanita yang kurang pergaulan atau kurang update seperti itu. Makanya, ketika kulihat saat ini begitu banyak majalah, koran, juga televisi menayangkan gambar seorang laki-laki berbadan kekar, otot menonjol di sana sini, rambut gondrong, namun berwajah kemayu, aku enggan menanyakan pada rekan-rekan siapa laki-laki yang tengah tenar tersebut. Sebenarnya bisa saja aku membuka-buka majalah atau koran, atau berhenti sebentar menonton tayangan televisi, kalau memang benar-benar ingin tahu siapa dia. Tapi aku begitu sibuk sepanjang hari, sehingga ketika ada sedikit waktu santai, aku lebih memilih tidur daripada mencari tahu laki-laki yang membuatku penasaran. Mau nanya, tengsin. Namun satu yang pasti dan sangat kuyakini, laki-laki berbadan kekar itu tentulah seorang public figure. Entah artis sinetron, penyanyi, olahragawan, atau tokoh politik yang banting setir menjadi seorang entertainer. Belakangan secara tak sengaja aku tahu, nama laki-laki ganteng nan kemayu itu adalah Agung Suragung. Sunda tulen rupanya.

Dering telponku berbunyi.
“Hallo, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam, jeng Retno, kami ada tambahan pesanan. Tolong dibuatkan miniatur taman bermain,dua puluh lima unit. Saya tunggu segera ya.”
“Baik, Bu. Sekitar satu bulan ya prosesnya.”
“Ok, no problem.”
Huft..aku menarik nafas panjang. Miniatur taman bermain. Itu bukan pekerjaan gampang. Mendesain taman sedemikian rupa dalam bentuk rajutan, aku harus membuat pohonnya, ayunan, bunga-bunga yang tumbuh mekar, belum lagi anak-anak kecilnya, dan dengan konyolnya aku menerima tawaran itu tanpa pikir panjang. Tapi sudahlah, mana mungkin aku membatalkan order penuh tantangan ini. Akhirnya kuputuskan ke toko buku, mencari buku-buku yang mungkin bisa membantu masalahku.

Toko buku sore ini lumayan ramai. Aku berdiri di antara rak buku sambil memilih-milih buku yang kuperlukan. Tepat pada saat itu, secara tak sengaja mataku menangkap sesosok bayangan tinggi tegap berambut gondrong. Agung Suragung! Herannya, kenapa orang-orang seperti biasa saja. Ada yang melirik sambil berbisik-bisik dengan temannya. Mungkin mereka malu mau menyapa atau minta tanda tangan. Aku yang pada dasarnya suka kepedean, dengan bangga mendekati Agung Suragung.
“Hai, Agung Suragung. kan?”
“Iya, Mbak.”
“Saya sering loh lihat kamu di tipi. Boleh minta tanda tangan? Oh iya, sekalian saya foto ya.”
Agung Suragung menyanggupi dengan kikuk. Heran, ini kok selebritis tapi pemalu banget gini. Beberapa pasang mata menatapku sambil senyum-senyum, ada yang berbisik-bisik. Aku mulai merasa aneh. Tapi ya sudahlah, mungkin mereka iri melihat keberanianku.

Aku keluar toko sambil menenteng beberapa buku. Seorang satpam mendekatiku.
“Mbak yang tadi minta foto dan tanda tangan Agung Suragung, kan?”
“Iya, Pak. Emang kenapa ya?”
Perasaanku mulai tidak enak.
“Emang mbak nggak tahu siapa Agung Suragung?” Dengan agak malu aku menggeleng, keringat dingin mulai membasahi wajahku.
“Dia kan pasien yang baru keluar dari RS.Jiwa. Kerjaannya sekarang sopir pribadi. Beberapa waktu lalu dia ngaku-ngaku cucu mantan presiden kita, dan maksa minta dibukain palang pintu busway. Tapi gara-gara kejadian itu namanya emang jadi ngetop banget.”

Kurasakan saat itu juga seperti ada yang berdesir di pipiku. Pastilah wajahku sudah begitu merah bagai kepiting rebus. Kutinggalkan pak Satpam tanpa sanggup melihat wajahnya.

Jumlah kata: 500

Iklan

26 thoughts on “Prompt #24: Akibat Kepedean

  1. lumayan… dapat tanda tangan dari orang yang sudah masuk tivi, koran, dan majalah. pasti sebentar lagi ikutan terkenal… karena tertangkap kamera sedang berfoto dan minta tanda tangan dengan orang terkenal itu 😀

  2. aku suka cerita ini herma. hanya saja ada sedikiiit yang mengganjal di hati ketika sampai di ujung kisah. diceritain si ‘aku’ ini pingsan ya? sepertinya agak berlebihan jika pingsan karena malu. mungkin jika digambarkan wajahnya memerah seperti kepiting rebus lalu bergegas pergi tanpa mau menoleh lagi, maka seluruh cerita jadi terasa pas. Gitu aja deh komenku. Good job! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s