Ada Kebebasan di Luar Sana

Dalam hidup ini, pastilah banyak pilihan-pilhan yang harus kita ambil, dengan semua konsekuensi tentunya. Butuh waktu yang tidak lama untuk menimbang baik buruk dalam pilihan tersebut. Mungkin sebagian besar orang, mengambil keputusan untuk menikahi seseorang adalah hal yang paling berat yang ia lakukan, karena pasangan itulah kelak yang akan bersama sepanjang hidup kita, melewati berbagai ujian, suka dan duka, namun tidak untuk saya. Kenapa…?? apakah saya dengan demikian mudahnya mengambil keputusan untuk menikah dengan seseorang tersebut, tanpa pertimbangan yang matang, tanpa pikir panjang, tanpa shalat istikharah, tanpa minta petunjuk pada Allah, seperti membeli kucing dalam karung? Tidak…bukan itu penyebabnya, jawabannya simple saja, karena saya belum menikah.. 😀 Tanpa bermaksud apapun ya..karena saya pikir ini adalah prolog yang paling pas untuk tulisan tentang pilihan hidup ini 😀

Baiklah, lalu pilihan berat apa dalam hidup yang telah saya buat? Setidaknya yang pernah saya alami sepanjang usia saya. Pilihan hidup yang paling berat yang saya lakukan, hingga memakan waktu bertahun-tahun (mungkin sekitar 4 tahun) untuk memikirkannya, sampai tidak tidur dan tidak makan -lebay dikit yak, biar rada horor :D- yaitu ketika saya memilih untuk resign dari pekerjaan, setelah mengabdi sejak tahun 2004. Ketika terbersit pikiran untuk resign pertama kalinya, saya memang tidak langsung melakukannya, karena butuh keberanian yang sangat kuat. Saat itu baru terniat saja, namun tak ada keberanian. Jelas saya nggak berani, pegangan selepas resign belum ada. Darimana sana saya harus mendapatkan uang bulanan untuk menutupi kebutuhan hidup. Pakai uang di tabungan? bisa bertahan berapa lama sebelum tabungan saya habis ludes. Menadahkan tangan pada orang tua? minta bantuan saudara-saudara? Oh no..it’s not me..Jadi terlalu konyol kalau saya berani resign pada saat itu. Namun niat resign tersebut tetap ada, dan terus ada. Saya hanya bisa bersabar..bertahan..Sementara beberapa rekan sudah ada yang mendahului..resign. Kegalauan pasti saya alami, antara bertahan atau menyudahi kepenatan. Rekan-rekan kerja yang menyenangkan, adalah salah satu yang membuat saya sanggup bertahan, namun tidak untuk urusan managemen.
Sampai akhirnya…ketika ada kebijakan baru dari seorang General Manager yang barusan diangkat, saya menjadi mantap untuk resign, tak ada gunanya lagi bertahan, setidaknya saya punya alasan yang sangatkuat untuk diajukan. Kebijakan baru tersebut,sangat merugikan pegawai-pegawai lama seperti saya. Walaupun ternyata…tak berapa lama berselang, sang GM baru tersebut pun resign karena berseberangan dengan pimpinan..hayyyah..cape deeeeh…Namun kebijakannya tetap dipertahankan hingga saat ini.

Banyak yang menyayangkan keputusan saya, terutama karena saya termasuk pegawai lama. Banyak memang yang saya korbankan, status, kepastian finansial tiap bulan, belum pesangon yang saya terima jika menikah (berdasarkan perhitungan, bisa puluhan juta). Namun ada yang tidak bisa ditukar dengan itu semua. Kebebasan..ya..saya butuh kebebasan. Saya butuh ruang untuk bebas bergerak, berkembang, memaksimalkan kemampuan yang saya miliki. Saya tidak bisa terus menerus terkungkung dalam rutinitas membosankan tanpa ada jenjang karir, menghabiskan waktu dan usia saya tanpa bisa mengembangkan diri.

Alhamdulillah..sekarang saya tidak lagi bekerja untuk orang lain. Saya bersama teman-teman mendirikan sebuah lembaga Bimbingan Belajar untuk adik-adik sekolah. Kami mengembangkan konsep sendiri, benar-benar sesuai dengan keinginan. Mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan di tempat lama. Kami juga dengan otomatis memberikan lahan pekerjaan untuk orang lain. Secara finansial..jelas belum sebesar yang saya terima jika masih bekerja di tempat lama. Semua tergantung usaha dan kerja keras. Jika ingin berkembang pesat, meraih banyak keuntungan, tentulah harus bekerja ekstra. Namun yang pasti…semua dikerjakan dengan ikhlas, tanpa tekanan, karena kami bekerja untuk perusahaan milik sendiri. Di samping itu, saya pribadi pun bisa mengembangkan wirausaha handmade rajutan yang saya tekuni, plus..masih punya cukup waktu untuk menggeluti dunia tulis menulis.

Saya tidak pernah menyesali keputusan yang saya ambil. Ketika uang tabungan saya sudah habis digunakan untuk membeli tanah dan membangun rumah kontrakan, yang belum selesai karena kehabisan dana, sementara pemasukan ke rekening belum stabil, saya mencoba memberi pengertian ke keluarga, tentang kondisi keuangan. Mereka bisa mengerti. Saya berpikir jangka panjang, mungkin untuk tahap awal, akan lebih banyak berkorban waktu dan tenaga, namun kedepannya…akan tinggal menuai hasil dari kerja keras bersama, insya Allah, aamiin…

“Postingan ini diikut sertakan dalam 4th Anniversary Emotional Flutter”

giveaway4

Iklan

14 thoughts on “Ada Kebebasan di Luar Sana

  1. memang kebebasan itu tidak ternilai. jadi ingat dengan cerita dua anjing, yang satu kurus, satunya gemuk.
    yang gemuk di rantai, yang kurus bebas… tapi yang kurus lebih bahagia 🙂

  2. yaaa..menjadi wirausaha memang konsekuensinya harus kerja lebih keras dariapda pegawai…kalau perlu kerja 26 jam hahaha

    baru tahu mbak Herma guru fisika 😀 keren euy

  3. Yup, kebebasan itu jauh lebih berharga daripada materi, setuju banget. Saya salut sama keberanian kamu untuk berani mengambil pilihan yg beresiko dalam hidup, demi masa depan dan kebahagiaan yg lebih di kemudian hari =)

    Anyway, thanks udah ikutan giveaway Emotional Flutter ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s