Jatuh Cinta (Lagi) bukan Pada Pasanganmu

Hasil copas dari tulisannya mba Sinta Yudisia (http:sintayudisia.multiply.com/)

Beberapa teman akhir-akhir ini curhat tentang kisah cinta mereka, baik yang sudah menikah atau masih dalam tahap penjajagan. Mengapa urusan cinta (atau hati) mampu meresahkan mereka yang berusia 15 tahun, 25, 35, atau 45 tahun bahkan 55 dan 65 tahun?

Jatuh Cinta memang tampak sepele tetapi emosi yang satu ini memang demikian istimewa, sebab demikianlah fitrah manusia yang dapat tertarik dengan lawan jenisnya.

Jatuh Cinta

Perlu diingat.

Setiap orang bisa jatuh cinta; remaja SMP atau orangtua, bahkan mereka yang telah menikah selama belasan atau puluhan tahun. Proses emosi dan chemistry rumit ini melibatkan hormon, otak, proses sensori persepsi, pengalaman, value dan banyak sekali elemen rumit. Makanya, kalau ditanya, kenapa kamu bisa jatuh cinta sama dia?

”Pokoknya aku cinta, titik. Nggak bisa menjelaskan. Bukankah itu true love?”

Maka, tiap kali memikirkannya, yang ada hanya detak jantung yang berdegup lebih cepat. Merasakan kesenangan, kebahagiaan. Memikirkannya tersenyum, tertawa, berbicara, melintas; menciptakan atmosfer kebahagiaan yang sulit dideskripsikan.

Begitu rumitkah cinta?

Atau begitu sederhana?

Jangan sepelekan perasaan cinta terhadap lawan jenis, sebab ia bisa menghinggapi siapa saja, mereka yang berkomitmen teguh dalam Islam pun suatu saat akan mengalami resah saat bertemu seseorang, lawan jenis yang memukau pikiran dan perasaan. Entah sosok, keberanian, caranya mengemukakan pendapat, kewibawaan, kecantikan yang sederhana, atau sosok keibuannya.

Fall in love saat masih remaja hingga dihinggapi virus puppy love masih dimaafkan; tetapi bagaimana bila jatuh cinta lagi pada orang yang bukan pasangannya? Solusi apa yang diperlukan?

Bagi yang belum pernah jatuh cinta mungkin akan berkomentar, gitu aja kok masalah?

Dalam novel Harafisy (Nagouib Mahfouz) dikisahkan dalam bab awal, betapa Asyur, anak asuh Syaikh Afra Zaydan yang memayunginya dengan sayap kebaikan tumbuh sebagai pemuda perkasa yang polos dan sholih serta baik hati. Sekalipun kebaikan hatinya sering diartikan kedunguan oleh Darwis Zaydan, Asyur berusaha tabah dan teguh. Namun hatinya terombang ambing saat terpaksa tinggal bersama tuan Zayn al Naturi dan memelihara kuda serta ternaknya : Zaynab, putri sulungnya yang melintas sesekali saat akan berangkat berdagang. Asyur , berusaha melebur rasa tetapi ia tak kuasa menolak saat tanpa sengaja matanya dan mata Zaynab bertemu.

Bisa dibayangkan betapa resah seseorang yang hanya terlahir sebagai harafisy, seorang papa kelana dan jatuh cinta pada putri tuannya?

Rational Emotif Albert Ellis

Klinisian yang satu ini memilih cara rasional yang menghantam emosi saat menterapi orang yang mengalami permasalahan.

Memilih cara berbeda dengan Carl Roger dengan CCT (client centered therapy) yang lembut memperlakukan klien, Albert Ellis memilih cara konfrontatif. Untuk permasalahan cinta, saya lebih menyukai cara RE Albert Ellis. Sebab perasaan yang terombang ambing, bila dihanyutkan, akan semakin terbawa. Cinta terhadap lawan jenis seharusnya tidak hanya melibatkan perasaan atau emosi semata, tetapi di titik tertentu rasio harus dilibatkan pula. Mengapa? Sebab cinta memang bicara perasaan, tetapi dampak cinta itu menyangkut kehidupan realita orang yang bersangkutan, teman-teman, keluarga, pekerjaan, bahkan masa depannya.

Cara Albert Ellis dengan Rational Emotif mungkin kira-kira begini.

T (therapist) & K (klien).

K : saya jatuh cinta lagi dengan perempuan di kantor. Ia cerdas, enak diajak diskusi. Pengetahuannya lumayan. Kalau dibilang cantik, biasa aja. Lebih cantik istri saya. Hanya ya….beda. Sebut saja istri saya Nina, teman saya Leni

T : anda tertarik padanya karena ia berbeda dengan istri. Leni enak diajak diskusi.

K : ya…begitulah. Ah , saya masih cinta istri saya. Kami dikaruniai dua anak yang lucu. Usia pernikahan kami baru enam tahun. Tidak ada masalah dalam hubungan cinta saya dan Nina. Semua baik-baik saja, mulai dari masalah kamar hingga keuangan. Friksi tentulah ada. Sesekali orangtua saya atau orangtua Nina memang bikin kesal, tapi nggak seberapa. Tapi….

T : ya…?

K : Leni beda. Apalagi Leni punya masalah dengan tunangannya yang hingga kini masih menggantung kapan mereka sesungguhnya mau menikah. Leni sering curhat. Awalnya saya hanya mendengar, lama-lama simpati, dan saya suka cara Leni mengatasi masalah. Easy going, berusaha ceria, menganggap setiap orang pasti punya masalah juga. Empati Leni tinggi.

T : intinya, Leni dan Nina beda.

K : mungkin begitu ya?

T : anda sudah memutuskan.

K : belum. Untuk itulah saya kemari.

T : jadi anda bertanya apa yang terbaik.

K : ya…

T : tidak ada yang terbaik.

K : lho kenapa?

T : kalau itu datangnya dari saya. Anda harus memutuskan sendiri. Menikahi Leni, misalnya.

K : bagaimana dengan Nina? dia…pasti sakit hati.

T : jadi anda berharap bisa dapat Leni, Nina juga, dan tidak ada yag sakit hati? Anda berharap semua kejadian akan berjalan baik-baik saja dengan apa yang telah anda lakukan, dengan apa yang anda putuskan? Anda harus sadar, buat list, kalau mau Leni maka akan kehilangan Nina dan 2 anak, mungkin pekerjaan. Orangtua, dukungan teman, kredibilitas.

K : saya tidak mau kehilangan Nina dan 2 anak saya! Pekerjaan yang sudah saya rintis sekian lama!

T : tapi itu kenyataannya bila anda tetap mempertahankan Leni. Leni bukan Nina! Dia mungkin tidak bisa memberi 2 anak, tidak bisa mendampingi anda seperti Nina.

K : bagaimana dengan …poligami, misalnya?

T : oke. Jadi kapan tepatnya anda akan menikahi Leni. Tak perlu izin ke Nina kan?

K :…..saya belum tau.

T : jadi anda juga belum tahu bagaimana caranya berpoligami. Sudah bilang ke Leni?

K : sempat ada pembahasan ke arah situ.

T : bagus, kalau begitu segera saja libatkan Leni dan Nina…

……………………..

Begitulah kira-kira cara Rational Emotif.

Anda bisa memprediksi apakah lelaki itu pada akhirnya memperistri Leni. Ia yang masih muda, katakanlah sekitar 30 an tahun, sedang dalam masa early adulthood dengan ledakan energi. Benturan dengan realitas setidaknya membuat dirinya berpikir, mau dikemanakan cinta dan perasaanku terhadap Leni, bila ternyata tak ada solusi? Membayangkan poligami yang terus dikawal oleh therapis, bukan keputusan mudah. Menyiapkan 2 rumah, membagi penghasilan, membagi hari, mencoba membayangkan konflik yang muncul; cinta tak selalu berurusan dengan emosi semata. Di titik tertentu, ketika rasio dilibatkan, perasaan mulai tawar menawar.

Teknik Jatuh Cinta

Banyak orang bisa memaksakan diri ’jatuh cinta’ saat terpaksa. Sebut saja terpaksa menikah dengan jodoh pilihan orangtua/ ustadz, terpaksa menggeluti pekerjaan X meski minatnya tak disitu. Seorang gadis pernah dites bakat minat, semua mengarahkan pada Literary atau kecenderungan sastra. Orangtuanya mengarahkan agar ia menjadi paramedis, sebab paramedis lebih banyak memiliki lapangan pekerjaan. Meski awalnya tak suka, lama-lama ia mencintai dunia kerja berbau karbol dan perlahan meninggalkan impiannya menjadi penulis atau editor. Ia mencintai dunia kerjanya sekarang, dan berniat melanjutkan studi di bidang yang sama.

Cinta dapat ditumbuhkan.

Bagaimana menghilangkannya?

Selain rational
emotif Albert Ellis yang terus menggiring pikiran dan emosi seseorang untuk siap berbenturan dengan realita, ada beberapa teknik yang dapat dilakukan. Kita tidak bicara skala cinta Rubin, mana ada orang jatuh cinta mau di tes psikologi untuk membuktikan seberapa dalam cintanya? Tetapi bila berniat menghilangkan cinta pada seseorang yang bukan pasangan, ada beberapa teknik yang saya coba rangkum dari berbagai sumber . Sebut saja X, orang yang bukan pasangan.

Ikat diri dengan rasa bersalah, bawa foto pasangan atau barang kenangan kemanapun, terutama saat di kantor atau bertemu orang yang sedang disukai (X)
MSG, musik klasik, love song akan menguatkan perasaan. Bila bersama orang X, hindarkan makan dengan kadar MSG tinggi seperti bakso, mie ayam. Hindarkan pula memutar musik klasik atau love song. Putarlah lagu –lagu yang bersemangat
Banyak aktivitas
Berdoalah, semoga anda dan X dapat menjadi saudara atau sahabat sejati, tanpa fitnah
Membaca Quran. Ingat, cinta adalah emosi. Bacaan quran, mampu menenangkan gelombang otak hingga membuat reaksi kimiawi tak berlebihan, terutama hormon2 yang mungkin bekerja berlebihan saat bertemu X
Carilah nasehat bijak, cari pula note-note tentang pernikahan yang banyak tersebar.

Maka simak pendapat Albert Ellis yang kurang lebih demikian.

~ berpikir & bertingkah laku irrasional adalah keadaan alami yang menimpa kita semua ( termasuk jatuh cinta) maka cobalah menantang gagasaa irrasional yang menyebabkan gangguan perilaku~

Ujilah gagasan. Lihatlah, betapa irrasionalnya

(saran untuk teman-teman yang sedang jatuh cinta lagi. Semoga menjadi solusi. Kalaupun Rational Emotif Albert Ellis masih belum pas, semoga ada terapi lain)

Sinta Yudisia

Fak Psikologi Untag

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s